Mengapa Justru "CHICHA KOESWOYO"?

28 April 2012

KATA orang, sukses Chicha banyak tertolong karena saat penampilannya yang tepat.
Waktu album pertama keluar, entah kebetulan atau sudah
lewat perhitungan anak-anak sekolah sedang liburan.

Jadi disangkakan, untuk menghabiskan masa-masa lowongnya, anak-anak itu sibuk mendengarkan radio, atau main dengan kaset, atau nguping dari rumah tetangga, atau ikut-ikutan sesudah salah seorang kawannya mulai menirukan suara "guk-guk" Helli - itu anjing kesayangan Chicha yang ambil bagian dalam lagu Helli.


Tanty Yosepha yang sudah pula mengeluarkan album pertama anak gadisnya yang bernama Joan, ikut membenarkan soal ketepatan saat itu. "Dan kebetulan lagi, Chicha tampil dengan kata-kata yang mudah ditangkap", ujarnya pada TEMPO.
Ia menunjuk pada lagu Helli misalnya yang sangat sederhana: Aku punya anjing kecil.Kuberi nama Helli. Dia senang bermain-main Sambil berlari-lari.Helli kemari. Ayo lari-lari Kata-kata itu baginya jelas sekali membantu, ketimbang misalnya lirik lagu dari Sari Yok Koeswoyo yang menurut pengakuan Remaco lakunya 2 banding 3 dengan album Chicha. "Syair lagu yang dibawakan Sari berat tidak gampang ditangkap", kata Tanty.

"Sebuah lagu tanpa musik dan penyanyi yang baik, tidak ada artinya", ujar A.T. Mahmud -- pengarang lagu anak-anak juga koordinator siaran "Ayo Menyanyi" dan "Lagu Pilihanku" di TVRI. Ia sendiri menganggap Chicha punya potensi baik. Album Chicha volume I dan II dianggapnya berhasil, karena memenuhi persyaratan lagu anak-anak. "Sebuah lagu akan digemari anak-anak, apabila setelah mendengar lagunya tubuh si anak akan ikut bergerak", kata Mahmud. Pandangan ini menyebabkan ia mengambil tiga faktor utama dalam lagu anak-anak: bisa didengar, iringan musik yang memungkinkan anak-anak bergerak dan aransemen yang tidak terlalu rumit. Ketiga faktor ini dianggap ada dalam album Chicha. "Hanya saja dalam kedua album itu iringannya terlalu ramai. Kalau bisa disederhanakan akan lebih baik hasilnya", ujar Mahmud.


Pengasuh "Ayo Menyanyi" TVRI, Bu Fat, ketika disodori album-album Chicha mengatakan: "Suara Chicha masih asli, dia tidak mencuri harga nada. Ia tidak banyak menggunakan variasi, lirik-liriknya sederana, sehingga anak-anak gampang menerimanya", kata ibu ini yang pada pokoknya memang mau mengatakan bahwa Chicha dengan Hellinya itu memang bagus. Album Chicha yang pertama berisi 11 buah lagu: Helli, Kelinciku, Perhitung, Sepasang Burung, Dang-dang tut, Loncengku, Si Gendut, Nasehat Ibu, Hompimpa, Ke Rumah Paman, Tarik Tambang. Adanya selang-seling yang jelas antara lagu yang iramanya cepat dengan yang iramanya lebih santai, menyebabkan lagu-lagu itu memperoleh posisi yang baik untuk sama-sama menonjol.

Kesederhanaan liriknya, kesederhanaan lagunya, memungkinkan banyak pengulangan tanpa ada perasaan bosan. Lagu semacam Helli atau Dang-dang tut misalnya, bisa dinyanyikan tak putus-putusnya. Lagu-lagu ini seperti diikuti oleh gerak yang mengasyikkan. Lagu ini penuh dengan isi jiwa anak-anak itu sendui, seakan-akan dia langsung dilemparkan dari hati Chicha, meskipun yang menulisnya adalah No Koes. Dengan pukulan-pukulan drum yang hidup dan segar, serta juga suara bas yang tidak mengekang dirinya dalam bervariasi, album ini jadi segar. Apalagi Chicha tampaknya memiliki temperamen seorang yang praktis dan enerjik, sehingga suaranya menjadi netral sekali, tidak menyebabkan kita mengusutnya apa dia gadis kecil atau anak lanang. lagu-lagu yang tanpa pretensi itu dibawakannya dengan tanpa memulus-muluskan suara, akan tetapi dengan intensitas yang mantap dan stamina yang terjaga ketat sampai lagu terakhir.Lagu Loncengku misalnya yang menampilkan suasana anak-anak bersekolah, ada menyarankan nasehat, tapi tidak terlalu kentara.

Ini berbeda sekali dengan lagu album dari Pak Kasur yang terkumpul di bawah judul Satu-satu Aku Sayang Ibu- (Asmara Record). Di situ terasa sekali ada nasehat dari orang tua lewat mulut anak-anak dengan dalih "ajakan". Misalnya saja dalam lagu Tukang Cukur di mana disebutkan: Hai adikku rambut/sudah terlalu panjang/ potonglah sedikit/supaya baik dipandang. Mungkin ada benarnya, yang dikatakan oleh Aceh dari Yukawi, yang menganggap berhasilnya Chicha lantaran adanya kekosongan pada lagu anak-anak sebelumnya. Kalau saja 'kekosongan' ini kita artikan sebagai kekosongan "penampang". Apalagi ia katakan bahwa kekosongan itu sudah melompong selama 2 tahun. Ini tentunya harus diartikan bahwa selama masa itu, lagu anak-anak bukannya tidak ada. Hanya "penampang" yang pas, untnk anak-anak masa kini belum ketemu. Tetapi ini jangan diartikan bahwa lagu anak-anak macam Chicha merupakan penampang yang paling pas untuk konsumsi peminat musik yang belia itu. Sebelumnya sudah kita kenal nama-nama seperti Pak dan Ibu Kasur, Ibu Sud, AT Mahmud dan bahkan bekas penyanyi tenor Pranajaya yang menyelenggarakan Bina Vocalia lewat TVRI. Mereka ini bukan pula sedikit artinya. Usaha mereka dalam memberikan lagu pada anak-anak cukup berhasil. Jangan dilupakan adanya usaha merekam lagu anak-anak dari grup

Koes Plus, The Mercy's, Is Haryanto serta Benyamin. Juga sudah kita kenal anak-anak yang menyanyi dengan baik seperti misalnya Nanin Sudiar dan Wiwiek Setiawan. serta jauh sebelumnya Ida Royani pada masa-masa ia baru muncul sebagai penyanyi. Jelas Chicha bukan anak kecil pertama yang menyanyi dengan baik dalam sejarah musik di bumi ini. Tetapi tidak bisa pula dipungkiri, dialah anak kecil pertama yang mendapat saat yang tepat, lagu yang cocok. Sehingga dunia kanak-kanak muncul dengan segar, dan dapat dinikmati juga oleh mereka yang bukan kanak lagi. Padanya ada unsur ekspresi dunia anak yang masih lugu dan bening --meskipun hanya.merupakan dunia seorang anak dari perut Jakarta yang kondisi sosialnya menengahan. Begitulah ciri yang paling harus diperhitungkan dari volume I Chicha yang bernama Helli atau Kelinci itu. Inilah yang membedakan lagu anak-anak dari Chicha dengan rekaman dari Bina Vocalia pimpinan Pranajaya. Beberapa anak Bina Vocalia menyanyi lagu ciptaan Pranajaya, Ibu Sud, Pak Kasur - bahkan juga Boneka dari India. Tapi ini lebih menampakkan lagu biasa, yang ditampilkan anak-anak. Harmoni dan variasi yang kelihatannya begitu rapih diatur terlalu berbau teknis. Lalu jatuh pada suasana dan ekspresi seorang dewasa. Sehingga meskipun kedua rekaman ini kwa musik dapat diperhitungkan bagus --apalagi ada usahanya untuk menggali lagu-lagu daerah--suasana dan ekspresi dunia anak jadi terlepas.


VOLUME II Chicha berisi 10 buah- lagu: Berbaris, Adikku Manis, Oma, Naik Kelas, Tukang Kue, Salam Bunga, Becak, Mawar Merah, Dunia Binatang,Di Kaki Bukit. Kulit muka kaset ini tidak lagi memperlihatkan Chicha yang lagi duduk di atas batang kayu dengan mawar merah di tangan, sementara matanya dan bibirnya menunjukkan hasrat yang keras - sebagaimana halnya volume I. Kali ini Chicha tertawa berkecak pinggang dengan tongkat dan busana kotak-kotak seperti tentara Skotlandia, dan matanya yang sipit itu tetap menunjukkan kekerasan hati. Ia kelihatannya sudah lebih yakin lagi pada dirinya. Hal ini jelas terasa dalam penjiwaannya pada lagu-lagu yang diberi judul Berbaris. Di sini Chicha sudah lebih sadar lagi untuk menyanyi. Di samping itu tidak begitu berusaha untuk mengurangi lagi temperamen yang keras. Ini kalau kita ukurkan misalnya dengan temperamen yang terasa pada saudara sepupunya, Sari Yok Koeswoyo yang juga sudah memiliki 2 volume kaset. Lagu-lagu yang diberikan untuk Chicha pada volume ini tidak sesederhana volume.I, baik lirik maupun lagunya. Dalam lagu Adikku Manis misalnya ada kata: "maaniss" dan "sayaang" yang mengharuskan Chicha melakukan sedikit irnprovisasi, sehingga kesudahannya lagu itu lebih mendekati lagu "pop" biasa daripada lagu anak-anak yang lugu. Sedang dalam lagu Mawar merah ada kalimat: Banyak bunga di taman/ Seindah hatiku kini/Cantik molek dan berseri/Kena embun pagi. Lirik seperti ini sudah mulai berisi unsur naratif, ketimbang lirik-lirik Chicha terdahulu yang lebih terasa sebagai lontaran spontan. Lirik naratif semacam itulah yang telah membuat lagu-lagu Sari, baik volume I atau II, menjadi memberat. Kehilangan spontanitasnya. Barangkali secara sadar Nomo mengurangi spontanitas Chicha, karena ia berusaha mendidik puteri sulungnya itu menyanyi dengan baik. Dalam lagu Oma yang bagus itu misalnya, Chicha mulai mencoba melakukan duet kecil-kecilan. Sedangkan dalam lagu Tukang Kue di samping menyanyi, Chicha pun melakukan peranan sebagai tukang kue dengan cukup berhasil. Suaranya ternyata dapat diolah dengan baik. Sehingga jelas lagi, bahwa anak kecil yang kadangkala kenes ini, tidak hanya diperjual-belikan karena faktor keunikannya sebagai anak usia 8 tahun yang "kok sudah pintar menyanyi". Tetapi juga karena memang memiliki bakat. Bakat ini sebetulnya sudah tampak pada lagu Tank Tambang pada volume I, yang sebetulnya cukup sukar dibawakan oleh anak-anak. 

Karena di balik kesederhanaan lagu yang sangat datar itu, dituntut jiwa yang musikal. Di sini boleh kita sodorkan komentar dari Bu Fat. Ia mengatakan, bahwa di samping bakat, keuntungan Chicha adalah lingkungan. Ia di tengah keluarga Koeswoyo di Cipete yang semuanya mencari nafkah dari musik. Sebelum ada Chicha dalam kancah musik kita, sudah karna dikenal rombongan The Kids. Anak-anak ini betul-betul menguasai alat musik tiup, dan juga betul-betul menyanyi. Mereka tidak menampilkan ekspresi dunia anak, tetapi tampil sebagai anak-anak yang menyanyi dengan serius mengejar mutu yang baik. Mereka terang-terangan terjun dalam dunia showbiz dan melakukan berbagai variasi dalam penampilan vocal mereka. Prestasi mereka bagus. Mereka pun mempunyai keunikan, yang seharusnya bisa menjadi modal popularitas mereka. Tapi anehnya, mereka tidak bisa menimbulkan geger seperti Chicha pada masa ini. ATAU Sari, sepupu Chicha sendiri. Ia kalah berpacu, karena munculnya belakangan dan ia belum mendapat lagu yang pas -- sebagaimana dikatakan oleh Ferry Iroth dari Remaco. Seandainya memperoleh kesempatan yang sama mungkin juga bisa hebat. Tentu saja tak kalah penting dalam hal Chicha, adalah temperamen Chicha yang dengan spontan muncul dalam warna suara dan cara penjiwaannya. Temperamennya inilah yang banyak membedakan dia dengan Sari atau penyanyi cilik lain, seperti Soffie Sumanti misalnya. Juga nantinya akan membedakan dengan Joan puteri Enteng Tanamal--Tanty Yosepha, yang pernah muncul di TV dan sudah diorbitkan dengan volume I yang berjudul Si Kodok.


Ada sesuatu yang bertenaga, praktis, ada suasana yang jauh dari menghiba-hiba, ada ketegasan dan kegairahan dalam suara Chicha. Ini bisa membuat kita berpikir kembali, bahwa potret dunia anak-anak sebagaimana terpantul dari lagu-lagu ciptaan Pak Kasur misalnya sudah harus direvisi. Siapa tahu justru inilah faktor yang terbesar rahasia kelarisan Chicha. Karena kalau kita benar-benar menelaahnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar luar biasa dari anak kecil ini yang mungkin tak lama lagi akan terlalu cepat dewasa lantas dicampakkan oleh publiknya sendiri. Volume III Chicha dengan judul Senam Pagi sudah selesai juga. Berisi 10 buah lagu: Senam Pagi, Sha la-la, Kereta Api, Bangun Pagi, Pok Ame-Ame, Kling Klong, Guruku, Jangan Suka Melamun, Di Taman, Sepatu Roda. Album ini seperti meneruskan gaya "bertutur" yang mulai terasa pada volume II. Musiknya terasa tidak semantap album terdahulu. Mungkin karena ada kegoncangan dalam formasi No Koes yang selama ini mengiringi Chicha--dengan keluarnya Usman Bersaudara. Lagu Sha la la, satu-satunya lagu yang paling pelit lirik. Ini rupanya akan berguna sekali bagi Chicha kalau melakukan penampilan langsung di depan publik. Balerina cabe rawit ini, dengan mudah akan membuat penonton terkesima melihat lompatan kaki dan kibasan tangannya Semenara lagu Kereta Api dapat menampilkan suasana yang tepat, berkat ikut ambil bagiannya instrumen "moog synthesizer", sehingga kereta itu serasa benar-benar lewat. AT Mahmud yang sudah kita sebut-sebut tadi, adalah salah seorang yang setuju untuk menampilkan berbagai instrumen pada penggarapan lagu anak-anak. "Sesuaikan iringan itu dengan zaman alat-alat listrik", ucapnya. Ia tidak setuju untuk mengiringi lagu anak-anak harus dengan instrumen sederhana seperti biola atau piano saja. 

"Untuk Chicha keberanian itu patut dipuji, spontan dan tidak malu-malu", ucapnya. Mungkin sudah terlalu banyak pujian untuk Chicha. Perlu disebutkan apa komentar dari Acet Darmawan dari P.T. Yukawi dalam soal besarnya peranan "operator" dalam perekaman--sehingga sukses sebenarnya tidak benar-benar 100% berasal pada penyanyi. Ini sebuah pernyataan umum, dan tentu saja bisa dikenakan pada Chicha juga. "Dalam rekaman lagu anak-anak, sesungguhnya peranan operator besar sekali. Dialah yang bisa memanjang-pendekkan volume suara anak-anak yang masih pendek", kata Acet. Tetapi mendengar ini Nomo Koeswoyo yang kelihatannya paling mantap keadaan rumah tangganya di antara penghuni kompleks Koeswoyo di Cipete, cepat membantah: "Kalau yang berperanan operator apakah anugerah Gusti Allah bisa dirubah? Opo arep dipermak? Warna suara adalah anugerah Tuhan. Operator hanya menolong! " Sabar, Nomo.  

Potret bintang kecil 
INI terjadi gara-gara Nomo Koeswoyo pimpinan grup No Koes itu memperoleh pesanan membuat iklan tapal gigi Delident. Dicobanya merekam suara puteri sulungnya: Chicha. Itu bulan Agustus tahun lalu. Iklan yang sebetulnya pendek itu, tak terduga seperti petunjuk rahasia menuju ke sumber mata uang. "Ternyata suara Chicha itu kok nyengek tinggi melengking dan nampak komersiil", ujar Nomo pada TEMPO mencoba mengenang awal pengorbitan anaknya. Operator Yukawi di mana rekaman kemudian dikerjakam setuju 100% dengan Nomo. Malahan mendesak. "Sudahlah, rekam saja suara Chicha! "Desakan ini menyebabkan Nomo membiarkan Chicha turut di studio Yukawi.  

Belum sampai setahun.
Chicha yang dilahirkan 1 Mei 1968 telah menjadi sama terkenalnya dengan grup yang dipimpin oleh ayahnya. Fans-nya bahkan muncul dalam penampilan musik di panggung-pangung yang sedang melayani No Koes dan Koes Plus. Mereka berteriak: "Mana Chicha! Mana Chicha!" Mereka tidak saja terdiri dari warga musik yang belia, tetapi juga anak-anak yang lebih remaja. Dan para orang tua. Lagu kanak-kanak Chicha yang diiringi musik oleh No Koes yang tidak sedikit penggemarnya dalam tempo singkat menjadi lagu semua umur. Belum lagi simpati orang-orang karena mulai bosan dengan dangdut dari Oma Irama tanpa Elvy Sukaesih, yang sebelumnya begitu merajai Sulitnya mencari kaset Chicha di toko-toko pengecer, gencarnya iklan di TVRI, dan kelewat seringnya radio berkoar-koar, ikut membantu kelahiran seorang bintang kecil dalam kancah musik pop. Epigon-epigonnya pun cepat muncul. Justru menambah tajamnya fokus pada Chicha. Chicha makin diburu sampai volume III. Meskipun tidak jelas, apakah sesungguhnya orang benar-benar ingin mendengarkan Chicha atau karena rentetan perkembangan musik pop pribumi memang lagi membutuhkan variasi. 

 Kompleks keluarga Koeswoyo di jalan Haji Nawi, Cipete, Jakarta, tiba-tiba seperti tambah penghuni baru padahal Chicha sudah hadir 8 tahun. Keluarga musik ini menambah lagi barisannya dengan seorang gadis kecil yang tidak kurang repotnya menerima para penggemarnya di rumah. Sementara itu hidup seorang Chichapun mulai tidak mungkin sewajar dahulu. karena dia harus menerima akibat kebintangannya. Untuk ukuran anak-anak yang biasa, apalagi anak-anak pedalaman negeri ini yang masih pemalu-pemalu. tindak-tanduk Chicha boleh dibi]ang sedikit nyentrik. Suatu sore misalnya. Lima orang puteri SMA Negeri XI Cililitan sengaja datang. Dengan rambut dikepang pita merah-putih Chicha muncul dengan senyum yang manis. Suksesnya telah membuat ia lebih berani dan yakin dalam segala tingkahnya. Langsung saja ia memelonco ke-5 penggemarnya itu. "Ayo berbaris, kalau nggak berbaris, Chicha nggak kasih foto!" perintahnya. Sambil mengepit Foto di tangan, ia mulai sibuk dan galak: "Ayo dong, kam-on....kam-on". katanya sambil mengatur agar yang tinggi di depan. 

Tak puas dengan itu. ia juga menggarap letak kaki mereka satu per satu. Dalam kesempatan yang lain ia juga tak segan-segan memerintahkan penggemar-penggemarnya yang jauh lebih besar itu untuk menyanyikan lagu Helli atau Berbaris
"Anak ini tengilnya bukan main" ujar ibu Chicha terhadap segala polah itu. Tapi siapa tahu, Nomo yang memang ahli dalam soal promosi memulai berdiri di belakang segala tingkah bintang-bintangan itu. Chicha lahir bertepatan dengan sedang ngebutnya lagu First of May dari The Bee Gees. Ia menyusu hingga usia 8 bulan dan tak pernah lepas dari tangan ibunya. Tubuhnya ramping tapi liat. Anak ini pemarah juga, tapi marahnya tak pernah lebih dari 1 jam. "Kalau didiamkan dia akan merajuk". kata suster Widjiarsi, pengasuhnya. Ia memiliki seekor anjing Peking yang bernama Helli, setahun lebih tua dari usianya. Anjing inilah yang memberi ilham lagu Helli yang laris itu. Sekarang mestinya ia tidak bisa terlalu banyak main dengan anjing, karena penggemarnya senantiasa berdatangan Bahkan tidur siangpun anak yang tidak begitu doyan makan ini sering tidak sempat lagi. Di samping harus menyediakan waktu untuk fans, ia juga punya adik bernama Helen yang herusia 3 tahun. Tapi yang paling doyan diajaknya main justru seorang anak bernama Hendra, yang berusia 2 tahun, putera salah seorang teman Nomo. "Habis Hendra lucu, Chicha seneng, deh. Gara-gara Helen, Chicha suka dipukuli ibu, padahal Helen yang salah", lapor Chicha pada TEMPO ,sementara Helen nyengir-nyengir saja mendengarkan . 

Chicha tidur sekamar dengan Helen. Ia ditemani oleh suster Widjiarsi, serta sebuah pesawat TV. Tak pernah lupa berdoa sebelum mencelup dalam mimpinya, tapi juga tak pernah bangun lewat dari pukul 5 subuh. Anak yang mencintai fajar ini mandi dengan air dingin, dan sering tampak hadir terlalu pagi di sekolahnya, SD "Ora et Labora'' Blok M Kebayoran. Meskipun ia diantar pulang pergi dengan mobil murid kelas II ini hanya mengantongi uang jajan Rp 100 sehari. Separuhnya kemudian rajin disimpannya dalam celengan. "Sebagai seorang anak pada usia itu, ia punya ide sendiri, dia bekerja tanpa instruksi", kata Agustine guru kelasnya. Lalu guru ini mulai memujinya sebagai anak yang banyak perhatian terhadap taplak meja, atau bunga yang telah layu di dalam vas, bahkan juga tiang permainan badminton yang roboh. Tetapi di samping kerajinannya itu, Chicha juga dinyatakan punya ego yang besar, sebagaimana layaknya anak-anak yang sebaya dengan dia. Sehingga ada kecenderungan untuk selalu tampil sebagai pemenang. Agustine, guru kelasnya itu, masih perlu menjelaskan lagi bahwa Chicha memang memiliki kepintaran untuk menarik perhatian kawan-kawannya.

Di dalam kelas yang berpenduduk 43 anak sampai saat ini bintang ini masib belum menunjukkan tuntutan untuk lebih diistimewakan. Konsentrasinya bagus pada pelajaran, sehingga apahila dari balik tembok terdengar nyanyian Helli dari murid Taman Kanak-kanak. ia tak acuh saja. Kalau ada kesempatan menyanyi ia memang suka menyanyikan lagu-lagunya yang baru, tetapi tanpa banyak tingkah. Agustine menerangkan juga, bahwa untuk rekaman volullle III dan penampilannya di Semarang, Chicha terpaksa mengganggu hari-hari sekolahnya. Tapi anak ini cukup rajin juga untuk memburu catatan-catatannya yang ketinggalan. "Chicha memang agak mundur dalam dikte kata ibunya dengan agak kesal. Anak itu kadangkala ditanya apa mau pilih tari balet atau belajar. Jawabannya: Chicha menangis.

Ini segera menyadarkan lagi bahwa bintang yang lagi diorbitkan ini, ternyata anak kecil biasa saja. "Dia nggak aneh-aneh", kata Haryanti, guru balet Chicha di Sekolah balet Indah Ade Rajanti Kebayoran Baru .

Memang Chicha tidak terlalu banyak memiliki keanehan, kecuali bahwa dia memang merupakan anak jaman sekarang. Ia tangkas menjawab pertanyaan. Ia punya pertanyaan dan jawaban-jawaban yang tak terduga. Dan seringkali menyerang balik dengan tajam kepada wartawan-wartawan yang berusaha mengorek keterangan. Ini merupakan gejala umum pada anak-anak kota, di mana struktur kehidupan keluarga juga sudah berubah. Kalau ditinjau dari hidup anak-anak pedalaman, memang tingkah lakunya menjadi aneh. Misalnya pada suatu kali di atas meja makan ia sudah berubah menjadi seorang dewasa yang menginginkan telor-telor paskah diberikan pada orang miskin dan baju serta sepatu bekas untuk anak-anak yatim piatu. Atau ia mendadak menjadi guru Ilmu kesehatan dan bicara soal gizi yang ada dalam sayur-sayur, terutama sayur asem yang menjadi kesukaannya. Atau tak jarang ia tiba-tiba sok berfilsafat tentang hubungan kebersihan dengan kesehatan dan kesehatan dengan umur panjang, sambil mengutip semboyan-semboyan yang mungkin didapatnya di sekolah atau dari orang tuanya.
Ia lakukan itu dengan begitu seriusnya. Sehingga tak heran kalau ada produser film yang tertarik untuk menyeretnya ke layar putih, karena memang terasa sekali ada bakat bermain. "Kira-kira nanti mirip Seperti film Heintje jalan ceritanya, mengenai kehidupan sehari-hari Chicha", ujar Nomo memberikan keterangan samar-samar .
Rata-rata Chicha menerima 6 buah surat dalam sehari dari penggemarnya - yang dialamatkan di sekolahan. Nomo sebagai ayah meskipun tahu Chicha terang-terangan mengatakan mau jadi penyanyi dan balerina yang baik, sudah -ajar berusaha untuk menomor-satukan sekolahan Chicha. "Dia saya kira masih mampu bernyanyi seperti sekarang, hingga usia 9 sampai 10 tahm. Tapi saya nggak mau memforsir", ujar Nomo. Ia menerangkan pada usia 5 tahun Chicha sudah pandai menirukan lagu Fly to the Moon dengan rengeng-rengeng. Lalu terus terang ia mengaku: dalam menuliskan lagu untuk Chicha, ia selalu melakukannya dengan kompromi. "Hanya kalau Chicha suka lalu aku mencarikan harmoninya" katanya. Sementara terhadap hari depan Chicha, dengan berkelakar ia berkata. "Kalau dia nggak laku nyanyi, dia bisa nari balet".

(dari Majalah Tempo 01 Mei 1976) 
Comments
1 Comments

1 komentar:

  • jin_donan says:
    28 April 2013 05.04

    Nice artikel. . . . .

Poskan Komentar