Kliping

Kamis, 20 November 2014

MEL SHANDY "Kena Cekal TVRI"

Tidak ada komentar :
MEL SHANDY nyanyi 8 lagu dalam malam "Crystal Rock Festival" di Jember Desember 92 lalu.

Dan, banyak orang yang memuji staminanya yang kian bagus. Padahal dengan dikawal Metal Boyz yang digawangi oleh gitaris top Totok Tewel, praktis MEL harus menyanyi pada lagu-lagu yang bertempo cepat dan banyak mendaki tangga tinggi.

"Saya selalu latihan, meski nggak ada rencana show atau rekaman" begiatu kiat pengikut lomba Baca Al-Quran ini.

Usai dari Jember, MEL harus terbang ke Ujung Pandang, menjadi bintang tamu "Crystal Rock Festival" babak penyisihan Indonesia Timur. Tanggal 13 Februari, ia akan muncul lagi di Yogyakarta, pada babak Semifinal tingkat Nasional.

Bulan Januari 93 ini, MEL juga akan tampil di Medan untuk mengisi acara yang sama. Kegiatan ini sekaligus dipakai untuk promosi album barunya yang antara lain membawakan lagu NGERI.

Nomor lagu ini tak baleh tampil di TVRI, karena alasan ada kalimat "setan dalam teve". Padahal lagu ini diciptakan Didieth (bassist Metal Boyz) bareng Rizal Ganeva, mendapat inspirasi pada ketakutan anak kecil sewaktu nonton film horor di teve.

Tapi MEL nggak bisa apa-apa. Di panggung lagu itu dibawakannya dengan menarik. Sebagai kompensasi dicekal TVRI, MEL tour keliling ajalah ya! 
(Majalah Anita Cemerlang No 428, 11-20 Januari 1993)

Sabtu, 25 Oktober 2014

IIS SUGIANTO "Kena Denda"

Tidak ada komentar :
NGIBUL alias cipoa dimusuhi di seantero dunia. Karena itu, petugas bandar udara di Honolulu menerapkan sanksi terhadap mereka yang ngibul, khususnya menyangkut jumlah uang di dalam tas penumpang. Di tempat ini, IIS SUGIANTO kena batunya. Penyanyi berusia 27 tahun, yang namanya melejit berkat album Jangan Sakiti Hatinya itu bandel. 

Waktu itu tanggal 5 Oktober 1988, ia mampir ke Honolulu untuk piknik selama dua hari, sebelum melanjutkan perjalanan ke New York. Di New York, katanya, ikut tugas suami. Usai menyelesaikan surat-surat imigrasi, masih di Honolulu, ia dan suaminya, Rizal Asyad (dulu), diperiksa petugas bandara di sebuah pintu keluar. Iis jengkel. Kenapa petugas itu sampai menanyakan isi tasnya. 

Untung, ia segera sadar, di Honolulu berlaku pembatasan jumlah uang yang boleh dibawa orang asing. IIS lupa berapa batasannya. "Kalau nggak 10 ribu dolar, ya, 5 ribu dolar," katanya. Di atas jumlah yang ditentukan, wajib lapor. Ketika polisi memeriksa tasnya, ternyata, antara 'bibir' dan kenyataan berbeda. Tak jelas, berapa bedanya. Yang pasti, IIS kena 'gebuk': denda 900 dolar. IIS terpaksa menyerah. Kapok? Eh, ternyata, belum. Ketika TEMPO menanyakan jumlah uang yang dibawanya, IIS mengelak lagi: "Ada, deh...!" Ini minta didenda lagi, atau bagaimana?
(Majalah TEMPO 10 Desember 1988)

Kamis, 25 September 2014

MASNIE TOWIJOYO "Jangan Sekarang deh...."

Tidak ada komentar :
Sebelum Kereta Senja, tak ada yang tahu kalau MASNIE sebenarnya seorang penyanyi yang sesungguhnya. Bukan Cuma penyanyi, yang Cuma manggung di kegiatan komplek rumahnya atau penyanyi kampus doang. Kendati sebagai penyanyi, ia juga tak sungkan menyumbangkan suaranya di acara kampus dan memang ia terlibat dalam kegiatan folk song ketika masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta. 

Kalau lantaran namanya naik daun lewat Album KERETA SENJA dan kemudian menjadi hit, mungkin karena memang di KERETA SENJA inilah jodohnya gadis kelahiran Menado. “Sebelumnya saya pernah merekam suara saya lewat lagu Dusta Semanis Bibir karya Pance Pondaag. Ketika tahun delapan puluh empat,” ungkap MASNIE yang berkulit putih mulus ini. 

Tentu saja kita ingin tahu kiprahnya MASNIE dan mengapa dunia tarik suara dia pilih. “Awalnya sejak kecil saya senang menyanyi. Karena papa saya senang terhadap musik. Dari perkenalan diri saya terhadap musik melalui ayah saya. Lantas saya sering mengisi acara di sekolah, juga di sekitar rumah saya,” papar MASNIE yang bertitel SE ini. 

Kemudian, “Selesai SMA, saya bingung harus memilih. Terus melanjutkan kuliah atau menjadi penyanyi,” tuturnya lagi. Pada akhirnya dia dikirim orangtuanya ke Jakarta. Karena dia akan lebih banyak mendapat pengalaman untuk dua bidang sekolah dan menyanyi. “Keasyikan kuliah dan akhirnya saya lupa dengan dunia nyanyi saya, kecuali kalau ada kegiatan di kampus. Karena saya dipacu untuk segera menyelesaikan kuliah, karena saya melihat kakak-kakak saya yang semuanya sudah sarjana,” jelasnya. 

“Pada akhirnya saya harus menggunakan ilmu saya dan juga atas saran dari ayah saya,” katanya lagi. Dan dengan sesungguhnya MASNIE pun bekerja sebagai orang kantoran duduk di belakang meja. Lama-kelamaan hal ini membuatnya bosan dan jenuh. “Barangkali yang demikian itu bukan dunia saya. Paling tidak untuk saat ini,” kilahnya. Pekerjaan sebagai orang kantoran itu dijalaninya setahun. “Keputusan yang saya ambil memang rada ditantang, tetapi bagaimanapun saya sudah dewasa dan harus mengambil sikap dan menentukan jalan hidup saya sendiri’” ungkapnya lebih jauh. 

Lewat KERETA SENJA nama MASNIE mulai dibicarakan orang. Karena sudah punya goodwill, kepercayaan untuk merekam lagu-lagunya MASNIE segera disambut dengan tangan terbuka oleh para produser. Lantas lahirlah tiga album berikutnya: BANDAR UDARA, KENANGAN PANTAI BIRU dan kemudian HATI WANITA. “Sayang pada album ketiga ini karena kurangnya promosi, pasarannya rada parah,” katanya agak lesu. Dan kemudian namanya tenggelam dengan hadirnya para pendatang baru. 

Namun MASNIE tak mengaku kalau dirinya harus mundur sama sekali dari dunia tarik suara. Punya keahlian yang diambilnya dari bangku kuliah mendapatkan dirinya terjun ke perusahaan keluarga yang bergerak di bidang garmen. Apa karena kamu merasa sudah tak yakin di dunia menyanyi? MASNIE dengan tegas menggelengkan kepalanya. Dia masih yakin kalau dirinya masih bisa hadir di blantika musik pop Indonesia. “Saya malah sedang mempersiapkan diri saya untuk rekaman lagi. Saya minta bantuan Deddy Dhukun untuk membuat lagu untuk saya. Saya belum berani mengatakan apa-apa kepada anda sebab masih dalam persiapan,” kilahnya ketika diminta menyebutkan judul lagu dan persiapan go publicnya. “Jangan sekarang deh...” katanya memohon untuk tidak didesak. 

Barangkali kita juga perlu tentang kegiatan lain cewek yang tergolong manis ini, ternyata dia masih sibuk dengan aktivitasnya sebagai pengusaha garmen. Katanya dua kegiatan ini sama-sama ada seninya untuk meyakinkan orang agar suka dengan produk yang dia jual. Ketika disinggung masalah pendapatannya dari pengusaha ini, MASNIE Cuma tertawa lebar dan gak mau menyebutkan berapa jumlahnya, yang pasti ada nolnya lebih dari lima. “Tapi belum sampai sembilan nolnya,” sahutnya dengan derai tawa yang rada panjang. 

Kayaknya memang belum lengkap kalau kita juga tidak tahu dengan urusan asmaranya. Sebagai manusia normal yang ingin mencintai dan dicintai apalagi sebagai orang yang satu saat akan mengarungi rumah tangga. Lalu apa? Tanyanya. Ah, dasar wartawan pasti nanya soal begituan terus. “Saya sudah punya sih, tetapi apa harus diomongin. Nanti kalau sudah resmi pasti akan saya beritahu kepada anda,” janjinya. 

Demikian cerita MASNIE yang lewat KERETA SENJA melambung namanya ke Blantika Musik Indonesia. Dan kini ia sedang berusaha kembali untuk mengembalikan namanya. Apakah ia akan berhasil? “Saya kembalikan kepada yang di atas” katanya. Dia bicara begitu nggak Cuma buat kariernya juga untuk hari depannya dan juga tentang pria mana yang nanti akan mendampingi hidupnya. “Sebagai orang beragama, ya hidup ini jalani saja dan pasrah saja,” katanya. Oh, begitu..... (AW/DD)
Majalah Ria Film No 1014 (24-30 Nov 1993)

Kamis, 18 September 2014

IRA MAYA SOPHA "Tukeran Ibu dengan Adi Bing Slamet"

Tidak ada komentar :
Bisa dibilang, aku ini anak yang sangat diidam-idamkan Mami dan Papiku, Syafrudin Kartawinata dan Maemunah Muchlis. Terang saja, aku ini, kan, puteri pertama mereka. Aku lahir Kamis, 21 Maret 1968, di RS Siti Chadijah, Jakarta Selatan, genap sembilan bulan setelah Mami mengandungku. Akupun kemudian diberi nama Hyra Maya Sofa. 

Nama Hyra memang sudah dipersiapkan Mami sejak awal. Hyra adalah nama goa tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapatkan wahyu. Sedangkan Maya Sopha, terinspirasi dari nama seorang penyanyi yang sangat diidolakan Mamiku saat itu.

Oh iya, sebelum melahirkan aku, Mami pernah bermimpi unik, lo. Ia bermimpi mendapat seekor ikan mas dari sebuah telaga warna yang sangat terkenal di daerah Jawa Barat. Meski penasaran dengan arti mimpinya, Mami tidak pernah mencari tahu. Namun Dr Waluyo Sapardan, dokter yang membantu kelahiranku, pernah berkata kepada Mami, kalau suatu saat aku pasti bisa menjadi penyanyi terkenal seperti Maya Sofa. Itulah mengapa, Mami semakin yakin menambahkan nama Maya Sofa dibelakang namaku, Hyra.

Keluarga Penyanyi
Sejak kecil, aku benar-benar tumbuh dalam keluarga yang bahagia. Selain kedua orangtuaku, Omaku (nenek dari Mami) -Entjik Mariam Muchlis- juga berperan besar dalam perkembanganku. Dulu aku sering tinggal di rumah Oma di Jalan Ciniru, Jakarta Selatan. Mereka semua sangat keras menanamkan disiplin dan tanggung jawab dalam bersikap dan bertingkah laku.

Aku punya tiga orang adik, Glen Reza Firmansyah, Rizky Dermawan, dan Sweeta Syafrina. Sebagai kakak tertua aku dituntut untuk menciptakan suasana saling menghargai, akrab, dan kompak di rumah. Saat-saat menyenangkan buat aku adalah kalau kami sekeluarga berkumpul. Ada saja hal seru yang terjadi. Maklumlah, kami sekeluarga memang terkenal humoris, jahil, dan suka bercanda. Makanya enggak heran kalau sampai sekarang hubungan kami sangat dekat.

Ada satu lagi kemiripan yang kami punya. Kami sama-sama pandai bernyanyi. Hm, kalau yang ini memang menurun dari kedua orangtuaku. Mereka dulu tergabung dalam satu band. Nama band-nya Eka Karta Ria atau dikenal juga dengan Eka Combo. Mami berperan sebagai penyanyi, sedang Papi penabuh drum. Selain aku, adikku Rizky juga pernah menjadi vokalis dari Plasma Band dan The Video. Belum lagi sepupuku Sandhy Sondhoro (The Best 6 of German Idol), Ron Ji (penyanyi R&B), dan yang lainnya. Wuih, aku jadi kepikiran pingin manggung sama mereka semua, nih !

Ganti Nama
Kata Mami, aku sudah pandai bernyanyi sejak usiaku enam bulan. Di usia yang masih sangat belia itu aku sudah bisa menyanyikan lagu Topi Saya Bundar sampai selesai lengkap dengan gayanya. Sempat enggak percaya juga, sih, tapi masa iya, sih, Mami bohong sama aku. Hi hi hi.

Ketika aku mulai besar, Papi dan Mami berusaha mengembangkan kemampuan bernyanyiku. Mereka tidak membawa aku ke tempat les vokal, melainkan mereka sendiri yang mengajariku.
Saat aku duduk di kelas 2 SD di SD Blok S 01 Pagi, Jaksel (sekarang SDN Rawa Barat 01 Pagi), aku pernah mewakili sekolah mengikuti lomba menyanyi antar SD tingkat Walikota Jaksel. Seingatku, itu kontes nyanyi pertama dan terakhir yang pernah kuikuti. Mau tahu siapa yang menang? Ya, aku, lah

Meski hanya mendapatkan piagam penghargaan, aku bangga sekali. Setelah itu aku semakin sering tampil, mulai dari panggung kemerdekaan di dekat rumah hingga mengisi acara di TVRI dan RRI.
Suatu hari di tahun 1976, seorang sahabat mengajakku bermain ke rumah Om Usman (dari Band Usman Bersaudara). Ketepatan rumah keluarga sahabatku ini bertetangga dengan beliau. Sambil bermain, kami bernyanyi bersama. Diam-diam Om Usman tertarik dengan penampilan dan suaraku yang katanya memilik ciri khas. Beliau dan Hartono Hendra (produser rekaman PT Irama Tara) lalu menghubungi orangtuaku untuk menawarkan pembuatan album. Wah, aku yang saat itu sangat mengidolakan penyanyi cilik Yoan Tanamal berharap besar Papi dan Mami setuju. Ternyata benar, mereka setuju!

Singkat cerita, lahirlah album perdanaku dengan single Abang Helicak. Namaku pun diganti menjadi Ira Maya Sopha. Katanya, selain diharapkan menjadi ikon besar penyanyi cilik PT Irama Tara, juga agar terdengar komersil dan mudah diingat.

Jangan ditanya, deh , bagaimana perasaanku saat itu. Bernyanyi di atas panggung dan ditonton banyak orang merupakan prestasi yang tidak ada duanya bagiku.
Meski kegiatan manggung dan syuting semakin padat, Papi dan Mami selalu mengingatkanku untuk tetap memprioritaskan sekolah. Mereka ingin aku juga sukses di bidang akademis. Semua kegiatan show dan rekaman hanya boleh dilakukan setelah jam sekolah atau pada akhir pekan.

Jadi terkenal tak membuatku pilih-pilih teman. Sehari-hari aku yang tomboi dan aktif sering manjat pohon buah Kersen atau Cherry, juga bersepeda sama teman-teman. Tak jarang aksiku itu berakhir dengan jatuh dari atas pohon atau sepedaku yang nyeruduk ke selokan. Enggak heran, deh, aku sering sekali pulang ke rumah dengan badan penuh lecet, lusuh dan baju robek. Kalau sudah begitu, Oma biasanya langsung ngomel. Wajar, sih, karena baju yang robek itu kan baju yang baru dijahitkan Tante Jun (almarhumah kakak Mami) untukku.

Nominator di FFI
Setelah sukses dengan album perdana, tahun 1978 aku merilis album Cerita Cinderella. Album ini merupakan salah satu album yang sangat fenomenal karena terjual lebih dari 1 juta keping! Melalui album ini jugalah aku berhasil mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya sebagai Penyanyi Cilik Terbaik & Terlaris.

Selain menyanyi, aku juga ditawari bermain film layar lebar. Menyadari kemampuanku dalam berakting, Papi dan Mami pun mengizinkanku main film. Tahun 1979 keluarlah film pertamaku yang berjudul Ira Maya Si Anak Tiri yang disutradarai Edward Pesta Sirait (Om Edo). Di situ aku bermain bersama dengan artis kawakan, seperti Drg Fadli, Tuti Kirana, Dina Mariana, dan Ria Irawan.

Om Edo sangat berperan besar dalam mengeksplor kemampuan aktingku. Oh iya, di film ini aku berhasil menjadi nominator Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia (1982). Film ini melengkapi kesuksesan album Cerita Cinderella dengan jumlah penonton yang tidak kalah banyak.
Filmku berikutnya adalah Ira Maya & Kakek Ateng (1980), Nakalnya Anak-anak (1981), dan lanjutan Cinderella-Ira Maya Anak Cinderella yaitu Ira Maya Putri Mawar (1982). Sedangkan untuk album, ada lebih kurang dari 100 album yang kumiliki. Itu termasuk album solo, duet, kompilasi, country, religi, pop, dll.

Kalau ditanya berapa penghasilanku dari semua jerih payah yang kulakukan, aku enggak tahu, ya. Yang mengatur keuangan dan jadwal manggungku itu, kan, Mami. Aku masih terlalu kecil, lah, untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Barulah setelah aku cukup dewasa, usia 21 tahun, aku mulai menanganinya sendiri.

Aku sangat boros untuk hal-hal yang berhubungan dengan aksi sosial karena aku suka enggak tegaan melihat orang susah. Aku selalu ingin orang yang ada di sekitarku selalu merasa senang dan bahagia, tanpa peduli latar belakang mereka. Pernah ya, aku diam-diam menghabiskan waktu di bangsal anak-anak pengidap penyakit ganas di sebuah rumah sakit, sekadar berbagi kasih dan cinta dengan mereka.

Duet dengan Adi
Laki-laki yang kumaksud itu bukan Adi Bing Slamet, lo. Usia laki-laki yang kusuka itu, kan, terpaut lumayan jauh denganku, sedangkan aku dan Adi seumuran. Sejak aku kenal dengan Adi di tahun 1976, aku sudah menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Kami berdua dipertemukan oleh label rekamanku, PT Irama Tara, dengan maksud ingin menduetkan kami dalam satu album.

Bisa dibilang saat itu, Adi-lah satu-satunya penyanyi cilik laki-laki yang terkenal. Dengan gayanya yang khas, diharapkan album duet ini bisa sama larisnya dengan albumku sebelumnya. Memang waktu itu rasanya kurang jika mengaku penyanyi cilik perempuan kalau belum berduet dengan Adi. Makanya dulu, hampir semua penyanyi cilik perempuan pernah berduet dengannya, termasuk aku. He he he.

Harapan labelku pun terkabul. Album duet kami, Burung-burung Bernyanyi ciptaan Yonas Pareira, laku keras. Sukses di album duet pertama, kami kemudian membuat album duet berikutnya. Sejak itu kami semakin sering melakukan aktivitas bersama, seperti rekaman dan manggung. Tidak heran kalau kemudian kami menjadi dekat dan bersahabat. Saking dekatnya, aku sampai tahu apa saja kesukaan Adi dari makanan hingga kebiasaannya yang lain. Kalau syuting, Adi senang ngemil yang manis-manis, seperti cokelat atau permen. Selain itu, kami yang ada di dekatnya harus selalu siap untuk ‘kram perut’ karena dia itu sangat suka melucu dan usil. Karakter Papa Adi, Bing Slamet, memang sangat kuat melekat pada Adi. Humoris, jahil, royal, dan sangat penyayang.

Sebenarnya aku dan Adi memiliki karakter yang berbeda. Adi itu orangnya santai, sedangkan aku cerewet dan sangat perfeksionis. Namun, kami bisa cocok karena sama-sama menyukai nyanyi dan film. Oh iya, kedekatan ini tidak hanya milik kami, lo, tapi juga keluarga kami, khususnya orangtua. Adi sangat manja ke Mamiku, begitupun aku ke Mamanya Adi, Ratna Furi. Saking dekatnya aku memanggil Mamanya Adi dengan sebutan ‘Mama’, dan Adi memanggil Mamiku dengan ‘Mami’. Seru, kan?
Pada saat-saat tertentu, kami sering bertukar ibu, lo. Seperti di satu pengalaman menyeramkan yang pernah kami alami saat mengadakan show di Jawa Tengah. Ceritanya, kamar hotel yang kami tempati ada makhluk gaibnya. Banyak kejadian aneh terjadi di sana. Saking takutnya, Adi selalu minta ditemani Mamiku setiap kali ingin ke kamar mandi. Begitupun sebaliknya dengan aku ke Mama Ratna.
ESTER SONDANG
Tabloid Nova Juni 2009 


Rabu, 10 September 2014

CHINTAMI ATMANAGARA "Suka Lagu Dangdut"

Tidak ada komentar :
Popularitasnya diawali dari mengikuti dunia film di seputar '78. Suksesnya film pertama yang dibintangi - Tempatmu Disisiku - terpaksa mengurangi kesibukannya dalam membina vokal group yang dirintissejak masih Sekolah Dasar, hingga kelas tiga SMA.

Bukan Hanya tawaran main film yang harus dipertimbangkan terus menerus, akan tetapi, pemilik modal perusahaan rekaman lagu pop tak kalah kreatif kalau hanya memanfaatkan potensinya. Tepatnya tahun '82 ketika pertama kali memasuki kampus ABA jurusan Bahasa Inggris, peranakan Sunda Jerman ini melangkahkan kaki ke dunia rekaman lagu pop Indonesia.

"Semua ini tidak akan bisa berjalan tanpa dorongan moral dari Ibu saya. Terus terang, meskipun Ibu tiri, dia banyak membantu dan mendorong semangat saya. Dia saya anggap sebagai seseorang yang berperan sangat penting dalam karier saya saat ini," ujar penggemar olahraga senam ini.

Lahir di Bonn, Jerman Barat, 14 Juni 1962. Masa kanak-kanaknya lebih akrab bergaul dengan dunia seni lukis. Disamping itu, dia tekun mendengarkan suara Ibunya yang mempunyai kebiasaan menyanyi di kamar mandi. Meskipun begitu, cewek indo berkulit putih ini mengaku, tak pernah menerima pelajaran tarik suara dari sang Ibu.

"Kalau sekarang ini saya menyanyi, rasanya seperti kembali lagi ke dunia anak-anak. Lucu deh.... Semula saya pesimis dalam hal menyanyi. Sama sekali nggak terbayang sampai bisa rekaman seperti sekarang," ujarnya seolah mengajak HAI untuk menengok ke alam lalu.

Cita-citanya menjadi penyanyi yang diimpikan sejak kecil, ternyata harus dilalui dengan mengalami perubahan sikap dari pesimis menjadi optimis. 
Optimisme apa sih yang kamu miliki sehingga terdorong menekuni lagu pop?

"Mmmmm.....saya merasa nggak bisa diam tuh. Untuk mengambil hati penggemar lagu pop, saya juga mempelajari macam-macam jenis lagu. Dangdut misalnya, juga saya pelajari. Malahan kalau show di daerah, saya sering membawakan lagu dangdut.
Ini terlepas  dari masalah suka atau tidak. Tapi kalau saya ditanya, suka lagu dangdut? Sudah pasti saya akan mengatakan suka sekali. Cuman, lagu dangdut yang pernah saya bawakan tidak untuk rekaman. Hanya untuk live show di daerah-daerah saja."

Kunci rahasia kesuksesan Artis dikatakan oleh Chintami. "Seperti halnya saya sendiri. Terus terang, kalau saya mengerjakan sesuatu, saya harus suka dengan pekerjaan itu. Karena kalau tidak dengan begitu, tidak mungkin meraih sukses seperti sekarang. Trus, saya banyak mendekatkan diri dengan Masyarakat melalui radio-radio"

Menurut Tami, kalau pada suatu saat dia mengasuh play group (kelompok anak-anak bermain) itu bukan berarti merupakan suatu jalan hidup diluar kesibukannya menjual suara pop. "Saya memang suka anak-anak," jelasnya. "Lain hal kalau saya buka salon kecantikan. Sudah terang, itu sasaran finansial untuk menunjang hidup, jika pada suatu saat nanti suara sayasudah nggak laku lagi," ujarnya mengakhiri percakapan. (BIS)
Majalah Hai Edisi Khusus III  30 Juli-5 Agustus 1985
 

Kamis, 04 September 2014

IWAN FALS "Produk Kota Besar"

Tidak ada komentar :

IWAN Fals adalah produk kota besar. Rekaman pertamanya dengan 10 lagu yang barusan terbit ini, boleh dikata liriknya tak menyentuh alam. Ia berbeda dengan Ebiet G. Ade, atau Leo Kristi, atau Franky. 

Iwan lebih dekat dengan Mogi Darusman. Tak ada cerita angin, burung, perahu atau nelayan dalam lirik Iwan. Ia lebih suka bertutur tentang nasib sarjana muda yang dengan langkah gontai mencari pekerjaan dan gagal. Atau tentang sebuah rumah sakit yang menolak pasien yang tak mampu membayar. Atau nasib pelacur yang tak kunjung mendapat langganan. 

Kalau toh ia bercerita tentang Si Tua Sais Pedati, di bait akhir liriknya ia lantas menyebut "solar dan ganti oli, bensin dan ganti busi," yang tak pernah dipikirkan sais pedati. Pun musik pengiringnya, ternyata sangat berbau 'kota', sangat berbau sebuah orkes lengkap. 

Dalam Sarjana Muda, "seorang pemuda dengan jaket lusuh di pundaknya" yang berjalan dengan sebatang rumput liar terselip di bibir, suasana itu terasa tidak klop degan gesekan biola Yap Chi Kian -- itu solisnya Orkes Simfoni Jakarta. Tapi dari segi yang lain, barangkali musik yang bak orkes lengkap itu memang menguntungkan. 

Lirik Iwan yang tak sekuat lirik Ebiet tertolong karenanya. Sebagai musik, paling sedikit, rekaman Iwan yang pertama ini enak didengar. Luput dari dugaan orang, album Sarjana Muda ini tak tampil dengan seloroh. Ketika Iwan masih suka ngamen di jalanan, atau sewaktu ia tampil di panggung orang merubungnya karena ia menyanyi dengan kocak. Satu hal yang hilang dalam rekaman ini, ialah spontanitas Iwan -- sama sekali absen. 

Kalau mau dicari, yang paling berhasil dalam rekaman pertama ini memang Guru Oemar Bakri. Masih tercium seloroh Iwan seperti kalau lagi tampil di panggung. Pun lirik lagu ini terasa tangkas, dan hidup dalam menceritakan suasana. Maka terasa kurang sreg, kalau dalam album pertama ini muncul pula sebuah ode buat Bung Hatta. Soal beginian rasanya kurang pas buat Iwan Fals ia lebih bisa bercerita tentang tokoh yang potretnya bisa dimencang-mencongkan. Potret salah seorang Proklamator RI itu, tentulah susah untuk dibegitukan. Jadinya ode buat Bung Hatta terasa merengek. Hujan air mata dari pelosok negeri / Saat melepas engkau pergi / berjuta kepala tertunduk baru / Terlintas nama seorang sahabat / Yang tak lepas dari namamu. 

Coba bandingkan dengan cerita tentang Pak Guru Bakri itu. Tas hitam dari kulit buaya, selamat pagi berkata Pak Oemar Bakri / Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali. Kemudian pak guru tua itu pun berangkat ke sekolah dengan sepeda tuanya untuk mengajar ilmu pasti. Sesampainya di depan sekolah ia kaget, kok banyak polisi berwajah garang. Ternyata murid-muridnya berkelahi. Pulanglah Pak Bakri dengan ngeri. Sepedanya pun dikebutnya. 40 tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati. Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri? tanya Iwan dengan merdu sekaligus menyakitkan hati. 
Bambang Bujono.
Majalah Tempo 21 Maret 1981