Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 September 2014
IRA MAYA SOPHA "Tukeran Ibu dengan Adi Bing Slamet"
Bisa dibilang, aku ini anak yang sangat diidam-idamkan Mami dan Papiku, Syafrudin Kartawinata dan Maemunah Muchlis. Terang saja, aku ini, kan, puteri pertama mereka. Aku lahir Kamis, 21 Maret 1968, di RS Siti Chadijah, Jakarta Selatan, genap sembilan bulan setelah Mami mengandungku. Akupun kemudian diberi nama Hyra Maya Sofa.
Oh iya, sebelum melahirkan aku, Mami pernah bermimpi unik, lo. Ia bermimpi mendapat seekor ikan mas dari sebuah telaga warna yang sangat terkenal di daerah Jawa Barat. Meski penasaran dengan arti mimpinya, Mami tidak pernah mencari tahu. Namun Dr Waluyo Sapardan, dokter yang membantu kelahiranku, pernah berkata kepada Mami, kalau suatu saat aku pasti bisa menjadi penyanyi terkenal seperti Maya Sofa. Itulah mengapa, Mami semakin yakin menambahkan nama Maya Sofa dibelakang namaku, Hyra.
Selain menyanyi, aku juga ditawari bermain film layar lebar. Menyadari kemampuanku dalam berakting, Papi dan Mami pun mengizinkanku main film. Tahun 1979 keluarlah film pertamaku yang berjudul Ira Maya Si Anak Tiri yang disutradarai Edward Pesta Sirait (Om Edo). Di situ aku bermain bersama dengan artis kawakan, seperti Drg Fadli, Tuti Kirana, Dina Mariana, dan Ria Irawan.
Nama Hyra memang sudah dipersiapkan Mami sejak awal. Hyra adalah nama goa tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapatkan wahyu. Sedangkan Maya Sopha, terinspirasi dari nama seorang penyanyi yang sangat diidolakan Mamiku saat itu.
Keluarga Penyanyi
Sejak kecil, aku benar-benar tumbuh dalam keluarga yang bahagia. Selain kedua orangtuaku, Omaku (nenek dari Mami) -Entjik Mariam Muchlis- juga berperan besar dalam perkembanganku. Dulu aku sering tinggal di rumah Oma di Jalan Ciniru, Jakarta Selatan. Mereka semua sangat keras menanamkan disiplin dan tanggung jawab dalam bersikap dan bertingkah laku.
Aku punya tiga orang adik, Glen Reza Firmansyah, Rizky Dermawan, dan Sweeta Syafrina. Sebagai kakak tertua aku dituntut untuk menciptakan suasana saling menghargai, akrab, dan kompak di rumah. Saat-saat menyenangkan buat aku adalah kalau kami sekeluarga berkumpul. Ada saja hal seru yang terjadi. Maklumlah, kami sekeluarga memang terkenal humoris, jahil, dan suka bercanda. Makanya enggak heran kalau sampai sekarang hubungan kami sangat dekat.
Ada satu lagi kemiripan yang kami punya. Kami sama-sama pandai bernyanyi. Hm, kalau yang ini memang menurun dari kedua orangtuaku. Mereka dulu tergabung dalam satu band. Nama band-nya Eka Karta Ria atau dikenal juga dengan Eka Combo. Mami berperan sebagai penyanyi, sedang Papi penabuh drum. Selain aku, adikku Rizky juga pernah menjadi vokalis dari Plasma Band dan The Video. Belum lagi sepupuku Sandhy Sondhoro (The Best 6 of German Idol), Ron Ji (penyanyi R&B), dan yang lainnya. Wuih, aku jadi kepikiran pingin manggung sama mereka semua, nih
!
Ganti Nama
Kata Mami, aku sudah pandai bernyanyi sejak usiaku enam bulan. Di usia yang masih sangat belia itu aku sudah bisa menyanyikan lagu Topi Saya Bundar sampai selesai lengkap dengan gayanya. Sempat enggak percaya juga, sih, tapi masa iya, sih, Mami bohong sama aku. Hi hi hi.
Ketika aku mulai besar, Papi dan Mami berusaha mengembangkan kemampuan bernyanyiku. Mereka tidak membawa aku ke tempat les vokal, melainkan mereka sendiri yang mengajariku.
Saat aku duduk di kelas 2 SD di SD Blok S 01 Pagi, Jaksel (sekarang SDN Rawa Barat 01 Pagi), aku pernah mewakili sekolah mengikuti lomba menyanyi antar SD tingkat Walikota Jaksel. Seingatku, itu kontes nyanyi pertama dan terakhir yang pernah kuikuti. Mau tahu siapa yang menang? Ya, aku, lah
.
Meski hanya mendapatkan piagam penghargaan, aku bangga sekali. Setelah itu aku semakin sering tampil, mulai dari panggung kemerdekaan di dekat rumah hingga mengisi acara di TVRI dan RRI.
Suatu hari di tahun 1976, seorang sahabat mengajakku bermain ke rumah Om Usman (dari Band Usman Bersaudara). Ketepatan rumah keluarga sahabatku ini bertetangga dengan beliau. Sambil bermain, kami bernyanyi bersama. Diam-diam Om Usman tertarik dengan penampilan dan suaraku yang katanya memilik ciri khas. Beliau dan Hartono Hendra (produser rekaman PT Irama Tara) lalu menghubungi orangtuaku untuk menawarkan pembuatan album. Wah, aku yang saat itu sangat mengidolakan penyanyi cilik Yoan Tanamal berharap besar Papi dan Mami setuju. Ternyata benar, mereka setuju!
Singkat cerita, lahirlah album perdanaku dengan single Abang Helicak. Namaku pun diganti menjadi Ira Maya Sopha. Katanya, selain diharapkan menjadi ikon besar penyanyi cilik PT Irama Tara, juga agar terdengar komersil dan mudah diingat.
Jangan ditanya, deh , bagaimana perasaanku saat itu. Bernyanyi di atas panggung dan ditonton banyak orang merupakan prestasi yang tidak ada duanya bagiku.
Meski kegiatan manggung dan syuting semakin padat, Papi dan Mami selalu mengingatkanku untuk tetap memprioritaskan sekolah. Mereka ingin aku juga sukses di bidang akademis. Semua kegiatan show dan rekaman hanya boleh dilakukan setelah jam sekolah atau pada akhir pekan.
Jadi terkenal tak membuatku pilih-pilih teman. Sehari-hari aku yang tomboi dan aktif sering manjat pohon buah Kersen atau Cherry, juga bersepeda sama teman-teman. Tak jarang aksiku itu berakhir dengan jatuh dari atas pohon atau sepedaku yang nyeruduk ke selokan. Enggak heran, deh, aku sering sekali pulang ke rumah dengan badan penuh lecet, lusuh dan baju robek. Kalau sudah begitu, Oma biasanya langsung ngomel. Wajar, sih, karena baju yang robek itu kan baju yang baru dijahitkan Tante Jun (almarhumah kakak Mami) untukku.
Nominator di FFI
Setelah sukses dengan album perdana, tahun 1978 aku merilis album Cerita Cinderella. Album ini merupakan salah satu album yang sangat fenomenal karena terjual lebih dari 1 juta keping! Melalui album ini jugalah aku berhasil mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya sebagai Penyanyi Cilik Terbaik & Terlaris.
Om Edo sangat berperan besar dalam mengeksplor kemampuan aktingku. Oh iya, di film ini aku berhasil menjadi nominator Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia (1982). Film ini melengkapi kesuksesan album Cerita Cinderella
dengan jumlah penonton yang tidak kalah banyak.
Filmku berikutnya adalah Ira Maya & Kakek Ateng (1980), Nakalnya Anak-anak (1981), dan lanjutan Cinderella-Ira Maya Anak Cinderella yaitu Ira Maya Putri Mawar (1982). Sedangkan untuk album, ada lebih kurang dari 100 album yang kumiliki. Itu termasuk album solo, duet, kompilasi, country, religi, pop, dll.
Kalau ditanya berapa penghasilanku dari semua jerih payah yang kulakukan, aku enggak tahu, ya. Yang mengatur keuangan dan jadwal manggungku itu, kan, Mami. Aku masih terlalu kecil, lah, untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Barulah setelah aku cukup dewasa, usia 21 tahun, aku mulai menanganinya sendiri.
Aku sangat boros untuk hal-hal yang berhubungan dengan aksi sosial karena aku suka enggak tegaan melihat orang susah. Aku selalu ingin orang yang ada di sekitarku selalu merasa senang dan bahagia, tanpa peduli latar belakang mereka. Pernah ya, aku diam-diam menghabiskan waktu di bangsal anak-anak pengidap penyakit ganas di sebuah rumah sakit, sekadar berbagi kasih dan cinta dengan mereka.
Duet dengan Adi
Laki-laki yang kumaksud itu bukan Adi Bing Slamet, lo. Usia laki-laki yang kusuka itu, kan, terpaut lumayan jauh denganku, sedangkan aku dan Adi seumuran. Sejak aku kenal dengan Adi di tahun 1976, aku sudah menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Kami berdua dipertemukan oleh label rekamanku, PT Irama Tara, dengan maksud ingin menduetkan kami dalam satu album.
Bisa dibilang saat itu, Adi-lah satu-satunya penyanyi cilik laki-laki yang terkenal. Dengan gayanya yang khas, diharapkan album duet ini bisa sama larisnya dengan albumku sebelumnya. Memang waktu itu rasanya kurang jika mengaku penyanyi cilik perempuan kalau belum berduet dengan Adi. Makanya dulu, hampir semua penyanyi cilik perempuan pernah berduet dengannya, termasuk aku. He he he.
Harapan labelku pun terkabul. Album duet kami, Burung-burung Bernyanyi ciptaan Yonas Pareira, laku keras. Sukses di album duet pertama, kami kemudian membuat album duet berikutnya. Sejak itu kami semakin sering melakukan aktivitas bersama, seperti rekaman dan manggung. Tidak heran kalau kemudian kami menjadi dekat dan bersahabat. Saking dekatnya, aku sampai tahu apa saja kesukaan Adi dari makanan hingga kebiasaannya yang lain. Kalau syuting, Adi senang ngemil yang manis-manis, seperti cokelat atau permen. Selain itu, kami yang ada di dekatnya harus selalu siap untuk ‘kram perut’ karena dia itu sangat suka melucu dan usil. Karakter Papa Adi, Bing Slamet, memang sangat kuat melekat pada Adi. Humoris, jahil, royal, dan sangat penyayang.
Sebenarnya aku dan Adi memiliki karakter yang berbeda. Adi itu orangnya santai, sedangkan aku cerewet dan sangat perfeksionis. Namun, kami bisa cocok karena sama-sama menyukai nyanyi dan film. Oh iya, kedekatan ini tidak hanya milik kami, lo, tapi juga keluarga kami, khususnya orangtua. Adi sangat manja ke Mamiku, begitupun aku ke Mamanya Adi, Ratna Furi. Saking dekatnya aku memanggil Mamanya Adi dengan sebutan ‘Mama’, dan Adi memanggil Mamiku dengan ‘Mami’. Seru, kan?
Pada saat-saat tertentu, kami sering bertukar ibu, lo. Seperti di satu pengalaman menyeramkan yang pernah kami alami saat mengadakan show di Jawa Tengah. Ceritanya, kamar hotel yang kami tempati ada makhluk gaibnya. Banyak kejadian aneh terjadi di sana. Saking takutnya, Adi selalu minta ditemani Mamiku setiap kali ingin ke kamar mandi. Begitupun sebaliknya dengan aku ke Mama Ratna.
ESTER SONDANG
Tabloid Nova Juni 2009
Duet dengan Adi
Laki-laki yang kumaksud itu bukan Adi Bing Slamet, lo. Usia laki-laki yang kusuka itu, kan, terpaut lumayan jauh denganku, sedangkan aku dan Adi seumuran. Sejak aku kenal dengan Adi di tahun 1976, aku sudah menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Kami berdua dipertemukan oleh label rekamanku, PT Irama Tara, dengan maksud ingin menduetkan kami dalam satu album.
Bisa dibilang saat itu, Adi-lah satu-satunya penyanyi cilik laki-laki yang terkenal. Dengan gayanya yang khas, diharapkan album duet ini bisa sama larisnya dengan albumku sebelumnya. Memang waktu itu rasanya kurang jika mengaku penyanyi cilik perempuan kalau belum berduet dengan Adi. Makanya dulu, hampir semua penyanyi cilik perempuan pernah berduet dengannya, termasuk aku. He he he.
Harapan labelku pun terkabul. Album duet kami, Burung-burung Bernyanyi ciptaan Yonas Pareira, laku keras. Sukses di album duet pertama, kami kemudian membuat album duet berikutnya. Sejak itu kami semakin sering melakukan aktivitas bersama, seperti rekaman dan manggung. Tidak heran kalau kemudian kami menjadi dekat dan bersahabat. Saking dekatnya, aku sampai tahu apa saja kesukaan Adi dari makanan hingga kebiasaannya yang lain. Kalau syuting, Adi senang ngemil yang manis-manis, seperti cokelat atau permen. Selain itu, kami yang ada di dekatnya harus selalu siap untuk ‘kram perut’ karena dia itu sangat suka melucu dan usil. Karakter Papa Adi, Bing Slamet, memang sangat kuat melekat pada Adi. Humoris, jahil, royal, dan sangat penyayang.
Sebenarnya aku dan Adi memiliki karakter yang berbeda. Adi itu orangnya santai, sedangkan aku cerewet dan sangat perfeksionis. Namun, kami bisa cocok karena sama-sama menyukai nyanyi dan film. Oh iya, kedekatan ini tidak hanya milik kami, lo, tapi juga keluarga kami, khususnya orangtua. Adi sangat manja ke Mamiku, begitupun aku ke Mamanya Adi, Ratna Furi. Saking dekatnya aku memanggil Mamanya Adi dengan sebutan ‘Mama’, dan Adi memanggil Mamiku dengan ‘Mami’. Seru, kan?
Pada saat-saat tertentu, kami sering bertukar ibu, lo. Seperti di satu pengalaman menyeramkan yang pernah kami alami saat mengadakan show di Jawa Tengah. Ceritanya, kamar hotel yang kami tempati ada makhluk gaibnya. Banyak kejadian aneh terjadi di sana. Saking takutnya, Adi selalu minta ditemani Mamiku setiap kali ingin ke kamar mandi. Begitupun sebaliknya dengan aku ke Mama Ratna.
ESTER SONDANG
Tabloid Nova Juni 2009
Minggu, 19 Januari 2014
MERIAM BELLINA "Untuk Rekaman Saya Nggak Begitu Antusias"
Berangkat dari PERAWAN-PERAWAN, Aktris ini hanya bermodal bakat, kemampuan tampil wajar di depan kamera dan wajah.!
Jumpa pertama di lapangan tembak, Senayan, Jakarta. Menjelang tengah malam, Memer, demikian panggilan intimnya, tengah latihan menari bersama puluhan remaja seusainya, untuk film yang trngah ditanganinya, "Kulihat Cinta Dimatanya" arahan sutradara Bobby Sandy. Tarian ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya musik terhenti, semua beristirahat. Mer duduk di lantai, wajahnya bersimbah peluh. Beberapa saat kemudian ia minta rokok, lalu berembug dengan sanga sutradara yang mengawasi jalannya latihan. Meski malam telah larut dan saat itu adalah paling ideal untuk pergi tidur, namun dari gerak-gerik dan sorot mata, Mer masih memancarkan sosok seorang bintang yang penuh vitalitas.
Mer nampak sudah bisa mengatur waktu, untuk kegiatan ekstra begini, tiga jam sebelumnya ia telah menghimpun tenaga.
"Karena pada mulanya, Mer sering difoto sama papi untuk album keluarga, para relasi dan akhirnya meningkat untuk majalah" tandasnya.
Namanya mulai dibicarakan orang ketika dalam "Roro Mendut", Mer tampil dengan cemerlang. Juga oleh sementara kalangan, dianggap bermain kelewat seronok untuk ukuran timur kala ia beraksi ala Brooke Shields dalam "Pengantin Pantai Biru". Namun itu semua tak menghambat jalan kariernya hingga ia mampu menggondol Piala Citra, sebagai anugerah tertinggi dalam perfilman nasional. Filmnya CINTA DIBALIK NODA menempatkan Mer di tangga teratas.
Lalu kapan kiprah Mer dalam dunia musik pop dimulai?
"Nah, sehabis main "Perawan-Perawan", saya dimanage selama setahun oleh Denny Sabri. Dibawa ke Pance Pondaag, di tes vokal, lalu dicoba untuk rekaman. Mungkin karena saya sudah terjun ke film, jadi lagu yang diberikan lebih bisa saya resapi maknanya, walau nyanyi bagi saya hanya ideal untuk kalangan sendiri, di sekolah, di rumah atau di kamar mandi!, sedang untuk rekaman saya nggak begitu antusias. Eh, nggak tahunya, album SYMPHONI RINDU meledak! Gitu deh...."ujarnya panjang lebar, diakhiri tawa berderai.
+ Setelah meraih Citra, sekarang honor Mer berapa untuk sebuah film dan kaset?
- (tertawa...) Nggak boleh tahu...! semua memang yang ngatur mami, boleh dikata 70% dari pendapatan masuk ke Bank. Kalau tidak, wah bisa habis. Namanya anak muda ingin beli segala macam.
Debutnya makin meroket setelah "CINTA DIBALIK NODA" yang mampu menggaet Citra.
Perjalanan dunia musik pop dan film nasional mencatat kehadiran seorang bintang, ELIZA MARIA MERIAM BELLINA, dara kelahiran Bandung 10 April 1965. Dari ayah G.H. Bamboe keturunan Belanda-Makassar dan ibu, Maria Theresia berdarah Jerman-Belanda. Dia dilahirkan sebagai aktris yang sukses baik karier maupun materi.
Terhitung semenjak ia berhasil menyabet Piala Citra, sebagai Aktris terbaik, September lalu di Jogyakarta. Namanya menjadi semakin melambung, honor untuk sebuah filmya menjadi berlipat, tawaran main datang bertubi-tubi dari kanan-kiri. Tercatat 7 buah film telah ia perani. tiga diantaranya "disikat" sekaligus dalam berbagai peran.
Di puncak tangga, Meriam tunduk dan memanfaatkan keadaan. Itu terlihat ketika tawaran masuk dapur rekaman datang, ia segera menyanggupi. Beruntung suaranya termasuk lumayan dan hasilnyapun tidak mengecewakan. Meski dara ini kurang fasih mengucapkan huruf "r" hingga edisi khusu ini dibuat ia tengah membuat ancang-ancang untuk albumnya yang ketiga.
Jumpa pertama di lapangan tembak, Senayan, Jakarta. Menjelang tengah malam, Memer, demikian panggilan intimnya, tengah latihan menari bersama puluhan remaja seusainya, untuk film yang trngah ditanganinya, "Kulihat Cinta Dimatanya" arahan sutradara Bobby Sandy. Tarian ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya musik terhenti, semua beristirahat. Mer duduk di lantai, wajahnya bersimbah peluh. Beberapa saat kemudian ia minta rokok, lalu berembug dengan sanga sutradara yang mengawasi jalannya latihan. Meski malam telah larut dan saat itu adalah paling ideal untuk pergi tidur, namun dari gerak-gerik dan sorot mata, Mer masih memancarkan sosok seorang bintang yang penuh vitalitas.Mer nampak sudah bisa mengatur waktu, untuk kegiatan ekstra begini, tiga jam sebelumnya ia telah menghimpun tenaga.
"Meriam masih tidur, baru saja pulang syuting. Sebab nanti malam mau latihan menari di lapangan tembak.." tutur temannya seorang pemuda, ketika Hai berkunjung ke rumahnya di Sunter Paradise, Jakarta Utara, tiga jam sebelumnya.
"Kalau you masih ingin ketemu dia dan membuat janji untuk wawancara, sebaiknya nanti anda kesana aja," tambahnya.
Pemuda itu benar, Mer memang ada di lapangan tembak, latihan menari dan bisa membuat janji untuk wawancara, meski ia masih sibuk dengan urusannya. Lihat saja, kini ia masih ngobrol, beberapa temannya ikut nimbrung, rokok masih terjepit di tangannya. Sesekali ia tertawa lepas, seperti di ruang itu cuma ada mereka. Saat yang tepat memang harus ditunggu, ia juga punya hak untuk acara-acara yang bersifat pribadi.
Akhirnya menjelang usai latihan, janji pun ditetapkan.
Ketemu besok siang di lokasi syuting!
Syuting berjalan lancar, Mer mampu menghapal dialog dengan baik, meski panas matahari membakar. Menjelang tengah hari, adegan Mer berdialog di samping mobil usai ia segera menuju ke tepi jalan, di bawah pohon yang rindang, dimana petugas konsumsi menyiapkan tugasnya.
Syuting hari ini selesai sudah, semua berkemas, "Kita ngobrolnya di kantor aja yuk...disini panas" katanya sambil berjalan menuju mobilnya, masih baru, dari model terakhir
"Sebetulnya nggak panjang, soalnya nggak susah. Serba kebetulan malah..." tutur Mer terus terang. Ia bercerita mengenai perjalanan kariernya sambil makan siang, setelah rambutnya dipotong beberapa senti oleh temannya.
Masa bocahnya dihabiskan di dua tempat, Bandung dan Canada. Dengan perbedaan struktur lingkungan ini, Mer kecil tumbuh dan mereguk cerianya masa kanak-kanak. Sepulangnya ke tanah air, masa remajanya menyongsongnya, duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, gadis yang terakhir hanya sebagai siswa kelas tiga ini telah aktif dalam berbagai kegiatan remaja. Seperti menari, menyanyi dan foto model. Untuk aktivitas terakhir, ia punya kenangan tersendiri, karena dari bidang itulah ia berangkat
"Karena pada mulanya, Mer sering difoto sama papi untuk album keluarga, para relasi dan akhirnya meningkat untuk majalah" tandasnya.
Ketika syuting "Perawan-Perawan" yang diadakan di Bandung, seoran pencari bakat menyodorkan foto Mer yang ssring menghias di berbagai majalah. Oleh Ida Farida, sang sutradara, ia ditawari ikut main. "Namanya ingin mencoba, segala macam, ya dicoba..." selorohnya. Dan sejak itu, mulailah debutnya sebagai bintang film.
Namanya mulai dibicarakan orang ketika dalam "Roro Mendut", Mer tampil dengan cemerlang. Juga oleh sementara kalangan, dianggap bermain kelewat seronok untuk ukuran timur kala ia beraksi ala Brooke Shields dalam "Pengantin Pantai Biru". Namun itu semua tak menghambat jalan kariernya hingga ia mampu menggondol Piala Citra, sebagai anugerah tertinggi dalam perfilman nasional. Filmnya CINTA DIBALIK NODA menempatkan Mer di tangga teratas.
Lalu kapan kiprah Mer dalam dunia musik pop dimulai?
"Nah, sehabis main "Perawan-Perawan", saya dimanage selama setahun oleh Denny Sabri. Dibawa ke Pance Pondaag, di tes vokal, lalu dicoba untuk rekaman. Mungkin karena saya sudah terjun ke film, jadi lagu yang diberikan lebih bisa saya resapi maknanya, walau nyanyi bagi saya hanya ideal untuk kalangan sendiri, di sekolah, di rumah atau di kamar mandi!, sedang untuk rekaman saya nggak begitu antusias. Eh, nggak tahunya, album SYMPHONI RINDU meledak! Gitu deh...."ujarnya panjang lebar, diakhiri tawa berderai.

- (tertawa...) Nggak boleh tahu...! semua memang yang ngatur mami, boleh dikata 70% dari pendapatan masuk ke Bank. Kalau tidak, wah bisa habis. Namanya anak muda ingin beli segala macam.
+ Kembali ke soal penyanyi baru, bagaimana tanggapan anda tentang banyak bermunculan penyanyi baru, apakah anda merasa tersaingi?
- Banyak bermunculan penyanyi baru malah bagus. Kalau kita sudah tahu kemampuan kita, mengapa takut tersaingi? Itu berarti kita nggak percaya pada diri sendiri dong.
+ Boleh dikata tahun 84-85 ini merupakan masa jaya bagi Mer karena laris oleh berbagai tawaran.
- Wuu, kayak kacang goreng kali larisnya (sambil tertawa)
+ Nah, apa yang akan kamu kerjakan bila masa jaya ini berakhir dan para penggemar anda sudah mulai meninggalkan anda?
- (berpikir sejenak) ya....mengundurkan diri. Buat apa saya paksain mereka senang sama saya.
+ Barangkali ada beban psikologis?
- Pada mulanya mungkin. Tetapi paling-paling nanti jarang muncul lalu tidak main sama sekali, alias--kawin-- (tertawa)
(Gun)
dari HAI EDISI KHUSUS III
30 Juli-5 Agustus 1985
- Banyak bermunculan penyanyi baru malah bagus. Kalau kita sudah tahu kemampuan kita, mengapa takut tersaingi? Itu berarti kita nggak percaya pada diri sendiri dong.
+ Boleh dikata tahun 84-85 ini merupakan masa jaya bagi Mer karena laris oleh berbagai tawaran.
- Wuu, kayak kacang goreng kali larisnya (sambil tertawa)
+ Nah, apa yang akan kamu kerjakan bila masa jaya ini berakhir dan para penggemar anda sudah mulai meninggalkan anda?
- (berpikir sejenak) ya....mengundurkan diri. Buat apa saya paksain mereka senang sama saya.
+ Barangkali ada beban psikologis?
- Pada mulanya mungkin. Tetapi paling-paling nanti jarang muncul lalu tidak main sama sekali, alias--kawin-- (tertawa)
(Gun)
dari HAI EDISI KHUSUS III
30 Juli-5 Agustus 1985
Rabu, 03 Juli 2013
Kamis, 27 Juni 2013
Rabu, 19 Juni 2013
Langganan:
Komentar
(
Atom
)















