Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 November 2014
MEL SHANDY "Kena Cekal TVRI"
MEL SHANDY nyanyi 8 lagu dalam malam "Crystal Rock Festival" di Jember Desember 92 lalu.
Dan, banyak orang yang memuji staminanya yang kian bagus. Padahal dengan dikawal Metal Boyz yang digawangi oleh gitaris top Totok Tewel, praktis MEL harus menyanyi pada lagu-lagu yang bertempo cepat dan banyak mendaki tangga tinggi.
"Saya selalu latihan, meski nggak ada rencana show atau rekaman" begiatu kiat pengikut lomba Baca Al-Quran ini.
Usai dari Jember, MEL harus terbang ke Ujung Pandang, menjadi bintang tamu "Crystal Rock Festival" babak penyisihan Indonesia Timur. Tanggal 13 Februari, ia akan muncul lagi di Yogyakarta, pada babak Semifinal tingkat Nasional.
Bulan Januari 93 ini, MEL juga akan tampil di Medan untuk mengisi acara yang sama. Kegiatan ini sekaligus dipakai untuk promosi album barunya yang antara lain membawakan lagu NGERI.
Nomor lagu ini tak baleh tampil di TVRI, karena alasan ada kalimat "setan dalam teve". Padahal lagu ini diciptakan Didieth (bassist Metal Boyz) bareng Rizal Ganeva, mendapat inspirasi pada ketakutan anak kecil sewaktu nonton film horor di teve.
Tapi MEL nggak bisa apa-apa. Di panggung lagu itu dibawakannya dengan menarik. Sebagai kompensasi dicekal TVRI, MEL tour keliling ajalah ya!
(Majalah Anita Cemerlang No 428, 11-20 Januari 1993)
Sabtu, 25 Oktober 2014
IIS SUGIANTO "Kena Denda"
NGIBUL alias cipoa dimusuhi di seantero dunia. Karena itu, petugas bandar udara di Honolulu menerapkan sanksi terhadap mereka yang ngibul, khususnya menyangkut jumlah uang di dalam tas penumpang. Di tempat ini, IIS SUGIANTO kena batunya.
Penyanyi berusia 27 tahun, yang namanya melejit berkat album Jangan Sakiti Hatinya itu bandel.
Waktu itu tanggal 5 Oktober 1988, ia mampir ke Honolulu untuk piknik selama dua hari, sebelum melanjutkan perjalanan ke New York. Di New York, katanya, ikut tugas suami. Usai menyelesaikan surat-surat imigrasi, masih di Honolulu, ia dan suaminya, Rizal Asyad (dulu), diperiksa petugas bandara di sebuah pintu keluar. Iis jengkel. Kenapa petugas itu sampai menanyakan isi tasnya.
Untung, ia segera sadar, di Honolulu berlaku pembatasan jumlah uang yang boleh dibawa orang asing. IIS lupa berapa batasannya. "Kalau nggak 10 ribu dolar, ya, 5 ribu dolar," katanya. Di atas jumlah yang ditentukan, wajib lapor. Ketika polisi memeriksa tasnya, ternyata, antara 'bibir' dan kenyataan berbeda. Tak jelas, berapa bedanya. Yang pasti, IIS kena 'gebuk': denda 900
dolar. IIS terpaksa menyerah. Kapok? Eh, ternyata, belum. Ketika TEMPO menanyakan jumlah uang yang dibawanya, IIS mengelak lagi: "Ada, deh...!" Ini minta didenda lagi, atau bagaimana?
(Majalah TEMPO 10 Desember 1988)
Kamis, 25 September 2014
MASNIE TOWIJOYO "Jangan Sekarang deh...."
Sebelum Kereta Senja, tak ada yang tahu kalau MASNIE sebenarnya seorang penyanyi yang sesungguhnya. Bukan Cuma penyanyi, yang Cuma manggung di kegiatan komplek rumahnya atau penyanyi kampus doang. Kendati sebagai penyanyi, ia juga tak
sungkan menyumbangkan suaranya di acara kampus dan memang ia terlibat dalam kegiatan folk song ketika masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta.
Kalau lantaran namanya naik daun lewat Album KERETA SENJA dan kemudian menjadi hit, mungkin karena memang di KERETA SENJA inilah jodohnya gadis kelahiran Menado. “Sebelumnya saya pernah merekam suara saya lewat lagu Dusta Semanis Bibir karya Pance Pondaag. Ketika tahun delapan puluh empat,” ungkap MASNIE yang berkulit putih mulus ini.
Tentu saja kita ingin tahu kiprahnya MASNIE dan mengapa dunia tarik suara dia pilih. “Awalnya sejak kecil saya senang menyanyi. Karena papa saya senang terhadap musik. Dari perkenalan diri saya terhadap musik melalui ayah saya. Lantas saya sering mengisi acara di sekolah, juga di sekitar
rumah saya,” papar MASNIE yang bertitel SE ini.
Kemudian, “Selesai SMA, saya bingung harus memilih. Terus melanjutkan kuliah atau menjadi penyanyi,” tuturnya lagi. Pada akhirnya dia dikirim orangtuanya ke Jakarta. Karena dia akan lebih banyak mendapat
pengalaman untuk dua bidang sekolah dan menyanyi. “Keasyikan kuliah dan akhirnya saya lupa dengan dunia nyanyi saya, kecuali kalau ada kegiatan di kampus. Karena saya dipacu untuk segera menyelesaikan kuliah, karena saya melihat kakak-kakak saya yang semuanya sudah sarjana,” jelasnya.
“Pada akhirnya saya harus menggunakan ilmu saya dan juga atas saran dari ayah saya,” katanya lagi. Dan dengan sesungguhnya MASNIE pun bekerja sebagai orang kantoran duduk di belakang meja. Lama-kelamaan hal ini membuatnya bosan dan jenuh. “Barangkali yang demikian itu bukan dunia saya. Paling tidak untuk saat ini,” kilahnya. Pekerjaan sebagai orang kantoran itu dijalaninya setahun. “Keputusan yang saya ambil memang rada ditantang, tetapi bagaimanapun saya sudah dewasa dan harus mengambil sikap dan menentukan jalan hidup saya sendiri’” ungkapnya lebih jauh.
Lewat KERETA SENJA nama MASNIE mulai dibicarakan orang. Karena sudah punya goodwill, kepercayaan untuk merekam lagu-lagunya MASNIE segera disambut dengan tangan terbuka oleh para produser. Lantas lahirlah tiga album berikutnya: BANDAR UDARA, KENANGAN PANTAI BIRU dan kemudian HATI WANITA.
“Sayang pada album ketiga ini karena kurangnya promosi, pasarannya rada parah,” katanya agak lesu. Dan kemudian namanya tenggelam dengan hadirnya para pendatang baru.
Namun MASNIE tak mengaku kalau dirinya harus mundur sama sekali dari dunia tarik suara. Punya keahlian yang diambilnya dari bangku kuliah mendapatkan dirinya terjun ke perusahaan keluarga yang bergerak di
bidang garmen. Apa karena kamu merasa sudah tak yakin di dunia menyanyi? MASNIE dengan tegas menggelengkan kepalanya. Dia masih yakin kalau dirinya masih bisa hadir di blantika musik pop Indonesia. “Saya malah sedang mempersiapkan diri saya untuk rekaman lagi. Saya minta bantuan Deddy Dhukun untuk membuat lagu untuk saya. Saya belum berani mengatakan apa-apa kepada anda sebab masih dalam persiapan,” kilahnya ketika diminta menyebutkan judul lagu dan persiapan go publicnya. “Jangan sekarang deh...” katanya memohon untuk tidak didesak.
Kayaknya memang belum lengkap kalau kita juga tidak tahu
dengan urusan asmaranya. Sebagai manusia normal yang ingin mencintai dan dicintai apalagi sebagai orang yang satu saat akan mengarungi rumah tangga. Lalu apa? Tanyanya. Ah, dasar wartawan pasti nanya soal begituan terus. “Saya sudah punya sih, tetapi apa harus diomongin. Nanti kalau sudah resmi pasti akan saya beritahu kepada anda,” janjinya.
Demikian cerita MASNIE yang lewat KERETA SENJA melambung namanya ke Blantika Musik Indonesia. Dan kini ia sedang berusaha kembali untuk mengembalikan namanya. Apakah ia akan berhasil? “Saya kembalikan kepada yang di atas” katanya. Dia bicara begitu nggak Cuma buat kariernya juga untuk hari depannya dan juga tentang pria mana yang nanti akan mendampingi hidupnya. “Sebagai orang beragama, ya hidup ini jalani saja dan pasrah saja,” katanya. Oh, begitu..... (AW/DD)
Majalah Ria Film No 1014 (24-30 Nov 1993)
Kamis, 18 September 2014
IRA MAYA SOPHA "Tukeran Ibu dengan Adi Bing Slamet"
Bisa dibilang, aku ini anak yang sangat diidam-idamkan Mami dan Papiku, Syafrudin Kartawinata dan Maemunah Muchlis. Terang saja, aku ini, kan, puteri pertama mereka. Aku lahir Kamis, 21 Maret 1968, di RS Siti Chadijah, Jakarta Selatan, genap sembilan bulan setelah Mami mengandungku. Akupun kemudian diberi nama Hyra Maya Sofa.
Oh iya, sebelum melahirkan aku, Mami pernah bermimpi unik, lo. Ia bermimpi mendapat seekor ikan mas dari sebuah telaga warna yang sangat terkenal di daerah Jawa Barat. Meski penasaran dengan arti mimpinya, Mami tidak pernah mencari tahu. Namun Dr Waluyo Sapardan, dokter yang membantu kelahiranku, pernah berkata kepada Mami, kalau suatu saat aku pasti bisa menjadi penyanyi terkenal seperti Maya Sofa. Itulah mengapa, Mami semakin yakin menambahkan nama Maya Sofa dibelakang namaku, Hyra.
Selain menyanyi, aku juga ditawari bermain film layar lebar. Menyadari kemampuanku dalam berakting, Papi dan Mami pun mengizinkanku main film. Tahun 1979 keluarlah film pertamaku yang berjudul Ira Maya Si Anak Tiri yang disutradarai Edward Pesta Sirait (Om Edo). Di situ aku bermain bersama dengan artis kawakan, seperti Drg Fadli, Tuti Kirana, Dina Mariana, dan Ria Irawan.
Nama Hyra memang sudah dipersiapkan Mami sejak awal. Hyra adalah nama goa tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapatkan wahyu. Sedangkan Maya Sopha, terinspirasi dari nama seorang penyanyi yang sangat diidolakan Mamiku saat itu.
Keluarga Penyanyi
Sejak kecil, aku benar-benar tumbuh dalam keluarga yang bahagia. Selain kedua orangtuaku, Omaku (nenek dari Mami) -Entjik Mariam Muchlis- juga berperan besar dalam perkembanganku. Dulu aku sering tinggal di rumah Oma di Jalan Ciniru, Jakarta Selatan. Mereka semua sangat keras menanamkan disiplin dan tanggung jawab dalam bersikap dan bertingkah laku.
Aku punya tiga orang adik, Glen Reza Firmansyah, Rizky Dermawan, dan Sweeta Syafrina. Sebagai kakak tertua aku dituntut untuk menciptakan suasana saling menghargai, akrab, dan kompak di rumah. Saat-saat menyenangkan buat aku adalah kalau kami sekeluarga berkumpul. Ada saja hal seru yang terjadi. Maklumlah, kami sekeluarga memang terkenal humoris, jahil, dan suka bercanda. Makanya enggak heran kalau sampai sekarang hubungan kami sangat dekat.
Ada satu lagi kemiripan yang kami punya. Kami sama-sama pandai bernyanyi. Hm, kalau yang ini memang menurun dari kedua orangtuaku. Mereka dulu tergabung dalam satu band. Nama band-nya Eka Karta Ria atau dikenal juga dengan Eka Combo. Mami berperan sebagai penyanyi, sedang Papi penabuh drum. Selain aku, adikku Rizky juga pernah menjadi vokalis dari Plasma Band dan The Video. Belum lagi sepupuku Sandhy Sondhoro (The Best 6 of German Idol), Ron Ji (penyanyi R&B), dan yang lainnya. Wuih, aku jadi kepikiran pingin manggung sama mereka semua, nih
!
Ganti Nama
Kata Mami, aku sudah pandai bernyanyi sejak usiaku enam bulan. Di usia yang masih sangat belia itu aku sudah bisa menyanyikan lagu Topi Saya Bundar sampai selesai lengkap dengan gayanya. Sempat enggak percaya juga, sih, tapi masa iya, sih, Mami bohong sama aku. Hi hi hi.
Ketika aku mulai besar, Papi dan Mami berusaha mengembangkan kemampuan bernyanyiku. Mereka tidak membawa aku ke tempat les vokal, melainkan mereka sendiri yang mengajariku.
Saat aku duduk di kelas 2 SD di SD Blok S 01 Pagi, Jaksel (sekarang SDN Rawa Barat 01 Pagi), aku pernah mewakili sekolah mengikuti lomba menyanyi antar SD tingkat Walikota Jaksel. Seingatku, itu kontes nyanyi pertama dan terakhir yang pernah kuikuti. Mau tahu siapa yang menang? Ya, aku, lah
.
Meski hanya mendapatkan piagam penghargaan, aku bangga sekali. Setelah itu aku semakin sering tampil, mulai dari panggung kemerdekaan di dekat rumah hingga mengisi acara di TVRI dan RRI.
Suatu hari di tahun 1976, seorang sahabat mengajakku bermain ke rumah Om Usman (dari Band Usman Bersaudara). Ketepatan rumah keluarga sahabatku ini bertetangga dengan beliau. Sambil bermain, kami bernyanyi bersama. Diam-diam Om Usman tertarik dengan penampilan dan suaraku yang katanya memilik ciri khas. Beliau dan Hartono Hendra (produser rekaman PT Irama Tara) lalu menghubungi orangtuaku untuk menawarkan pembuatan album. Wah, aku yang saat itu sangat mengidolakan penyanyi cilik Yoan Tanamal berharap besar Papi dan Mami setuju. Ternyata benar, mereka setuju!
Singkat cerita, lahirlah album perdanaku dengan single Abang Helicak. Namaku pun diganti menjadi Ira Maya Sopha. Katanya, selain diharapkan menjadi ikon besar penyanyi cilik PT Irama Tara, juga agar terdengar komersil dan mudah diingat.
Jangan ditanya, deh , bagaimana perasaanku saat itu. Bernyanyi di atas panggung dan ditonton banyak orang merupakan prestasi yang tidak ada duanya bagiku.
Meski kegiatan manggung dan syuting semakin padat, Papi dan Mami selalu mengingatkanku untuk tetap memprioritaskan sekolah. Mereka ingin aku juga sukses di bidang akademis. Semua kegiatan show dan rekaman hanya boleh dilakukan setelah jam sekolah atau pada akhir pekan.
Jadi terkenal tak membuatku pilih-pilih teman. Sehari-hari aku yang tomboi dan aktif sering manjat pohon buah Kersen atau Cherry, juga bersepeda sama teman-teman. Tak jarang aksiku itu berakhir dengan jatuh dari atas pohon atau sepedaku yang nyeruduk ke selokan. Enggak heran, deh, aku sering sekali pulang ke rumah dengan badan penuh lecet, lusuh dan baju robek. Kalau sudah begitu, Oma biasanya langsung ngomel. Wajar, sih, karena baju yang robek itu kan baju yang baru dijahitkan Tante Jun (almarhumah kakak Mami) untukku.
Nominator di FFI
Setelah sukses dengan album perdana, tahun 1978 aku merilis album Cerita Cinderella. Album ini merupakan salah satu album yang sangat fenomenal karena terjual lebih dari 1 juta keping! Melalui album ini jugalah aku berhasil mendapatkan banyak penghargaan, salah satunya sebagai Penyanyi Cilik Terbaik & Terlaris.
Om Edo sangat berperan besar dalam mengeksplor kemampuan aktingku. Oh iya, di film ini aku berhasil menjadi nominator Pemeran Utama Wanita Terbaik Festival Film Indonesia (1982). Film ini melengkapi kesuksesan album Cerita Cinderella
dengan jumlah penonton yang tidak kalah banyak.
Filmku berikutnya adalah Ira Maya & Kakek Ateng (1980), Nakalnya Anak-anak (1981), dan lanjutan Cinderella-Ira Maya Anak Cinderella yaitu Ira Maya Putri Mawar (1982). Sedangkan untuk album, ada lebih kurang dari 100 album yang kumiliki. Itu termasuk album solo, duet, kompilasi, country, religi, pop, dll.
Kalau ditanya berapa penghasilanku dari semua jerih payah yang kulakukan, aku enggak tahu, ya. Yang mengatur keuangan dan jadwal manggungku itu, kan, Mami. Aku masih terlalu kecil, lah, untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Barulah setelah aku cukup dewasa, usia 21 tahun, aku mulai menanganinya sendiri.
Aku sangat boros untuk hal-hal yang berhubungan dengan aksi sosial karena aku suka enggak tegaan melihat orang susah. Aku selalu ingin orang yang ada di sekitarku selalu merasa senang dan bahagia, tanpa peduli latar belakang mereka. Pernah ya, aku diam-diam menghabiskan waktu di bangsal anak-anak pengidap penyakit ganas di sebuah rumah sakit, sekadar berbagi kasih dan cinta dengan mereka.
Duet dengan Adi
Laki-laki yang kumaksud itu bukan Adi Bing Slamet, lo. Usia laki-laki yang kusuka itu, kan, terpaut lumayan jauh denganku, sedangkan aku dan Adi seumuran. Sejak aku kenal dengan Adi di tahun 1976, aku sudah menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Kami berdua dipertemukan oleh label rekamanku, PT Irama Tara, dengan maksud ingin menduetkan kami dalam satu album.
Bisa dibilang saat itu, Adi-lah satu-satunya penyanyi cilik laki-laki yang terkenal. Dengan gayanya yang khas, diharapkan album duet ini bisa sama larisnya dengan albumku sebelumnya. Memang waktu itu rasanya kurang jika mengaku penyanyi cilik perempuan kalau belum berduet dengan Adi. Makanya dulu, hampir semua penyanyi cilik perempuan pernah berduet dengannya, termasuk aku. He he he.
Harapan labelku pun terkabul. Album duet kami, Burung-burung Bernyanyi ciptaan Yonas Pareira, laku keras. Sukses di album duet pertama, kami kemudian membuat album duet berikutnya. Sejak itu kami semakin sering melakukan aktivitas bersama, seperti rekaman dan manggung. Tidak heran kalau kemudian kami menjadi dekat dan bersahabat. Saking dekatnya, aku sampai tahu apa saja kesukaan Adi dari makanan hingga kebiasaannya yang lain. Kalau syuting, Adi senang ngemil yang manis-manis, seperti cokelat atau permen. Selain itu, kami yang ada di dekatnya harus selalu siap untuk ‘kram perut’ karena dia itu sangat suka melucu dan usil. Karakter Papa Adi, Bing Slamet, memang sangat kuat melekat pada Adi. Humoris, jahil, royal, dan sangat penyayang.
Sebenarnya aku dan Adi memiliki karakter yang berbeda. Adi itu orangnya santai, sedangkan aku cerewet dan sangat perfeksionis. Namun, kami bisa cocok karena sama-sama menyukai nyanyi dan film. Oh iya, kedekatan ini tidak hanya milik kami, lo, tapi juga keluarga kami, khususnya orangtua. Adi sangat manja ke Mamiku, begitupun aku ke Mamanya Adi, Ratna Furi. Saking dekatnya aku memanggil Mamanya Adi dengan sebutan ‘Mama’, dan Adi memanggil Mamiku dengan ‘Mami’. Seru, kan?
Pada saat-saat tertentu, kami sering bertukar ibu, lo. Seperti di satu pengalaman menyeramkan yang pernah kami alami saat mengadakan show di Jawa Tengah. Ceritanya, kamar hotel yang kami tempati ada makhluk gaibnya. Banyak kejadian aneh terjadi di sana. Saking takutnya, Adi selalu minta ditemani Mamiku setiap kali ingin ke kamar mandi. Begitupun sebaliknya dengan aku ke Mama Ratna.
ESTER SONDANG
Tabloid Nova Juni 2009
Duet dengan Adi
Laki-laki yang kumaksud itu bukan Adi Bing Slamet, lo. Usia laki-laki yang kusuka itu, kan, terpaut lumayan jauh denganku, sedangkan aku dan Adi seumuran. Sejak aku kenal dengan Adi di tahun 1976, aku sudah menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Kami berdua dipertemukan oleh label rekamanku, PT Irama Tara, dengan maksud ingin menduetkan kami dalam satu album.
Bisa dibilang saat itu, Adi-lah satu-satunya penyanyi cilik laki-laki yang terkenal. Dengan gayanya yang khas, diharapkan album duet ini bisa sama larisnya dengan albumku sebelumnya. Memang waktu itu rasanya kurang jika mengaku penyanyi cilik perempuan kalau belum berduet dengan Adi. Makanya dulu, hampir semua penyanyi cilik perempuan pernah berduet dengannya, termasuk aku. He he he.
Harapan labelku pun terkabul. Album duet kami, Burung-burung Bernyanyi ciptaan Yonas Pareira, laku keras. Sukses di album duet pertama, kami kemudian membuat album duet berikutnya. Sejak itu kami semakin sering melakukan aktivitas bersama, seperti rekaman dan manggung. Tidak heran kalau kemudian kami menjadi dekat dan bersahabat. Saking dekatnya, aku sampai tahu apa saja kesukaan Adi dari makanan hingga kebiasaannya yang lain. Kalau syuting, Adi senang ngemil yang manis-manis, seperti cokelat atau permen. Selain itu, kami yang ada di dekatnya harus selalu siap untuk ‘kram perut’ karena dia itu sangat suka melucu dan usil. Karakter Papa Adi, Bing Slamet, memang sangat kuat melekat pada Adi. Humoris, jahil, royal, dan sangat penyayang.
Sebenarnya aku dan Adi memiliki karakter yang berbeda. Adi itu orangnya santai, sedangkan aku cerewet dan sangat perfeksionis. Namun, kami bisa cocok karena sama-sama menyukai nyanyi dan film. Oh iya, kedekatan ini tidak hanya milik kami, lo, tapi juga keluarga kami, khususnya orangtua. Adi sangat manja ke Mamiku, begitupun aku ke Mamanya Adi, Ratna Furi. Saking dekatnya aku memanggil Mamanya Adi dengan sebutan ‘Mama’, dan Adi memanggil Mamiku dengan ‘Mami’. Seru, kan?
Pada saat-saat tertentu, kami sering bertukar ibu, lo. Seperti di satu pengalaman menyeramkan yang pernah kami alami saat mengadakan show di Jawa Tengah. Ceritanya, kamar hotel yang kami tempati ada makhluk gaibnya. Banyak kejadian aneh terjadi di sana. Saking takutnya, Adi selalu minta ditemani Mamiku setiap kali ingin ke kamar mandi. Begitupun sebaliknya dengan aku ke Mama Ratna.
ESTER SONDANG
Tabloid Nova Juni 2009
Rabu, 10 September 2014
CHINTAMI ATMANAGARA "Suka Lagu Dangdut"
Popularitasnya diawali dari mengikuti dunia film di seputar '78. Suksesnya film pertama yang dibintangi - Tempatmu Disisiku - terpaksa mengurangi kesibukannya dalam membina vokal group yang dirintissejak masih Sekolah Dasar, hingga kelas tiga SMA.
Bukan Hanya tawaran main film yang harus dipertimbangkan terus menerus, akan tetapi, pemilik modal perusahaan rekaman lagu pop tak kalah kreatif kalau hanya memanfaatkan potensinya. Tepatnya tahun '82 ketika pertama kali memasuki kampus ABA jurusan Bahasa Inggris, peranakan Sunda Jerman ini melangkahkan kaki ke dunia rekaman lagu pop Indonesia.
"Semua ini tidak akan bisa berjalan tanpa dorongan moral dari Ibu saya. Terus terang, meskipun Ibu tiri, dia banyak membantu dan mendorong semangat saya. Dia saya anggap sebagai seseorang yang berperan sangat penting dalam karier saya saat ini," ujar penggemar olahraga senam ini.
Lahir di Bonn, Jerman Barat, 14 Juni 1962. Masa kanak-kanaknya lebih akrab bergaul dengan dunia seni lukis. Disamping itu, dia tekun mendengarkan suara Ibunya yang mempunyai kebiasaan menyanyi di kamar mandi. Meskipun begitu, cewek indo berkulit putih ini mengaku, tak pernah menerima pelajaran tarik suara dari sang Ibu.
"Kalau sekarang ini saya menyanyi, rasanya seperti kembali lagi ke dunia anak-anak. Lucu deh.... Semula saya pesimis dalam hal menyanyi. Sama sekali nggak terbayang sampai bisa rekaman seperti sekarang," ujarnya seolah mengajak HAI untuk menengok ke alam lalu.
Cita-citanya menjadi penyanyi yang diimpikan sejak kecil, ternyata harus dilalui dengan mengalami perubahan sikap dari pesimis menjadi optimis.
Optimisme apa sih yang kamu miliki sehingga terdorong menekuni lagu pop?
"Mmmmm.....saya merasa nggak bisa diam tuh. Untuk mengambil hati penggemar lagu pop, saya juga mempelajari macam-macam jenis lagu. Dangdut misalnya, juga saya pelajari. Malahan kalau show di daerah, saya sering membawakan lagu dangdut.
Ini terlepas dari masalah suka atau tidak. Tapi kalau saya ditanya, suka lagu dangdut? Sudah pasti saya akan mengatakan suka sekali. Cuman, lagu dangdut yang pernah saya bawakan tidak untuk rekaman. Hanya untuk live show di daerah-daerah saja."
Kunci rahasia kesuksesan Artis dikatakan oleh Chintami. "Seperti halnya saya sendiri. Terus terang, kalau saya mengerjakan sesuatu, saya harus suka dengan pekerjaan itu. Karena kalau tidak dengan begitu, tidak mungkin meraih sukses seperti sekarang. Trus, saya banyak mendekatkan diri dengan Masyarakat melalui radio-radio"
Menurut Tami, kalau pada suatu saat dia mengasuh play group (kelompok anak-anak bermain) itu bukan berarti merupakan suatu jalan hidup diluar kesibukannya menjual suara pop. "Saya memang suka anak-anak," jelasnya. "Lain hal kalau saya buka salon kecantikan. Sudah terang, itu sasaran finansial untuk menunjang hidup, jika pada suatu saat nanti suara sayasudah nggak laku lagi," ujarnya mengakhiri percakapan. (BIS)
Majalah Hai Edisi Khusus III 30 Juli-5 Agustus 1985
Kamis, 04 September 2014
IWAN FALS "Produk Kota Besar"
IWAN Fals adalah produk kota besar. Rekaman pertamanya dengan 10 lagu yang barusan
terbit ini, boleh dikata liriknya tak menyentuh alam. Ia berbeda dengan Ebiet
G. Ade, atau Leo Kristi, atau Franky.
Iwan lebih dekat dengan Mogi Darusman.
Tak ada cerita angin, burung, perahu atau nelayan dalam lirik Iwan. Ia lebih suka
bertutur tentang nasib sarjana muda yang dengan langkah gontai mencari
pekerjaan dan gagal. Atau tentang sebuah rumah sakit yang menolak pasien yang
tak mampu membayar. Atau nasib pelacur yang tak kunjung mendapat langganan.
Kalau toh ia bercerita tentang Si Tua Sais Pedati, di bait akhir liriknya ia
lantas menyebut "solar dan ganti oli, bensin dan ganti busi," yang
tak pernah dipikirkan sais pedati. Pun musik pengiringnya, ternyata sangat
berbau 'kota', sangat berbau sebuah orkes lengkap.
Dalam Sarjana Muda,
"seorang pemuda dengan jaket lusuh di pundaknya" yang berjalan dengan
sebatang rumput liar terselip di bibir, suasana itu terasa tidak klop degan
gesekan biola Yap Chi Kian -- itu solisnya Orkes Simfoni Jakarta. Tapi dari
segi yang lain, barangkali musik yang bak orkes lengkap itu memang
menguntungkan.
Lirik Iwan yang tak sekuat lirik Ebiet tertolong karenanya.
Sebagai musik, paling sedikit, rekaman Iwan yang pertama ini enak didengar.
Luput dari dugaan orang, album Sarjana Muda ini tak tampil dengan seloroh.
Ketika Iwan masih suka ngamen di jalanan, atau sewaktu ia tampil di panggung
orang merubungnya karena ia menyanyi dengan kocak. Satu hal yang hilang dalam
rekaman ini, ialah spontanitas Iwan -- sama sekali absen.
Kalau mau dicari,
yang paling berhasil dalam rekaman pertama ini memang Guru Oemar Bakri. Masih
tercium seloroh Iwan seperti kalau lagi tampil di panggung. Pun lirik lagu ini
terasa tangkas, dan hidup dalam menceritakan suasana. Maka terasa kurang sreg,
kalau dalam album pertama ini muncul pula sebuah ode buat Bung Hatta. Soal
beginian rasanya kurang pas buat Iwan Fals ia lebih bisa bercerita tentang
tokoh yang potretnya bisa dimencang-mencongkan. Potret salah seorang
Proklamator RI itu, tentulah susah untuk dibegitukan. Jadinya ode buat Bung
Hatta terasa merengek. Hujan air mata dari pelosok negeri / Saat melepas engkau
pergi / berjuta kepala tertunduk baru / Terlintas nama seorang sahabat / Yang
tak lepas dari namamu.
Coba bandingkan dengan cerita tentang Pak Guru Bakri
itu. Tas hitam dari kulit buaya, selamat pagi berkata Pak Oemar Bakri / Ini
hari aku rasa kopi nikmat sekali. Kemudian pak guru tua itu pun berangkat ke
sekolah dengan sepeda tuanya untuk mengajar ilmu pasti. Sesampainya di depan
sekolah ia kaget, kok banyak polisi berwajah garang. Ternyata murid-muridnya
berkelahi. Pulanglah Pak Bakri dengan ngeri. Sepedanya pun dikebutnya. 40 tahun
mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati. Tapi mengapa gaji guru
Oemar Bakri seperti dikebiri? tanya Iwan dengan merdu sekaligus menyakitkan
hati.
Bambang Bujono.
Majalah Tempo 21
Maret 1981
Senin, 14 April 2014
CHICHA KOESWOYO "Surat Penggemar Dihantam Peluru"
CHICHA KOESWOYO, 16, sedang menulis catatan harian ketika gudang peluru di Cilandak
meledak, pekan lalu.
Masih mengenakan celana pendek dan kaus oblong, ia naik ke loteng rumahnya di Jalan H. Nawi, Cilandak, sekitar tiga kilometer dari pusat ledakan. "Wow, bagus sekali, seperti kembang api," kata Chicha.
Tiba-tiba ia kaget melihat ke bawah. Pembantunya kemudian mengatakan, orang
sedang panik dan sebagian mengungsi. Penyanyi yang meningkat remaja ini
mengambil inisiatif, menyelamatkan dokumen-dokumen penting milik ayahnya, ke
dalam kopor. Sebuah peluru menghantam tembok belakang garasi rumahnya yang
bersebelahan dengan kamar Chicha.
Peluru itu kemudian menghantam rak yang
berisi jutaan pucuk surat penggemar Chicha. Surat itu berhamburan, tetapi
raknya rupanya berhasil menghentikan peluru sehingga tidak menghantam tubuh
Chicha yang sedang tiarap.
Pada malam ledakan itu, beberapa menit setelah dua
peluru singgah di rumahnya, Chicha serta adik dan ibunya mengungsi ke studionya
di Kebayoran. Rumah yang hancur itu akan dirobohkan. "Papa mau bikin rumah
baru di sana, sekalian dengan prasasti peringatan kejatuhan peluru," kata
Chicha di tempat pengungsian.
(Tempo, 10 November 1984)
Minggu, 19 Januari 2014
MERIAM BELLINA "Untuk Rekaman Saya Nggak Begitu Antusias"
Berangkat dari PERAWAN-PERAWAN, Aktris ini hanya bermodal bakat, kemampuan tampil wajar di depan kamera dan wajah.!
Jumpa pertama di lapangan tembak, Senayan, Jakarta. Menjelang tengah malam, Memer, demikian panggilan intimnya, tengah latihan menari bersama puluhan remaja seusainya, untuk film yang trngah ditanganinya, "Kulihat Cinta Dimatanya" arahan sutradara Bobby Sandy. Tarian ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya musik terhenti, semua beristirahat. Mer duduk di lantai, wajahnya bersimbah peluh. Beberapa saat kemudian ia minta rokok, lalu berembug dengan sanga sutradara yang mengawasi jalannya latihan. Meski malam telah larut dan saat itu adalah paling ideal untuk pergi tidur, namun dari gerak-gerik dan sorot mata, Mer masih memancarkan sosok seorang bintang yang penuh vitalitas.
Mer nampak sudah bisa mengatur waktu, untuk kegiatan ekstra begini, tiga jam sebelumnya ia telah menghimpun tenaga.
"Karena pada mulanya, Mer sering difoto sama papi untuk album keluarga, para relasi dan akhirnya meningkat untuk majalah" tandasnya.
Namanya mulai dibicarakan orang ketika dalam "Roro Mendut", Mer tampil dengan cemerlang. Juga oleh sementara kalangan, dianggap bermain kelewat seronok untuk ukuran timur kala ia beraksi ala Brooke Shields dalam "Pengantin Pantai Biru". Namun itu semua tak menghambat jalan kariernya hingga ia mampu menggondol Piala Citra, sebagai anugerah tertinggi dalam perfilman nasional. Filmnya CINTA DIBALIK NODA menempatkan Mer di tangga teratas.
Lalu kapan kiprah Mer dalam dunia musik pop dimulai?
"Nah, sehabis main "Perawan-Perawan", saya dimanage selama setahun oleh Denny Sabri. Dibawa ke Pance Pondaag, di tes vokal, lalu dicoba untuk rekaman. Mungkin karena saya sudah terjun ke film, jadi lagu yang diberikan lebih bisa saya resapi maknanya, walau nyanyi bagi saya hanya ideal untuk kalangan sendiri, di sekolah, di rumah atau di kamar mandi!, sedang untuk rekaman saya nggak begitu antusias. Eh, nggak tahunya, album SYMPHONI RINDU meledak! Gitu deh...."ujarnya panjang lebar, diakhiri tawa berderai.
+ Setelah meraih Citra, sekarang honor Mer berapa untuk sebuah film dan kaset?
- (tertawa...) Nggak boleh tahu...! semua memang yang ngatur mami, boleh dikata 70% dari pendapatan masuk ke Bank. Kalau tidak, wah bisa habis. Namanya anak muda ingin beli segala macam.
Debutnya makin meroket setelah "CINTA DIBALIK NODA" yang mampu menggaet Citra.
Perjalanan dunia musik pop dan film nasional mencatat kehadiran seorang bintang, ELIZA MARIA MERIAM BELLINA, dara kelahiran Bandung 10 April 1965. Dari ayah G.H. Bamboe keturunan Belanda-Makassar dan ibu, Maria Theresia berdarah Jerman-Belanda. Dia dilahirkan sebagai aktris yang sukses baik karier maupun materi.
Terhitung semenjak ia berhasil menyabet Piala Citra, sebagai Aktris terbaik, September lalu di Jogyakarta. Namanya menjadi semakin melambung, honor untuk sebuah filmya menjadi berlipat, tawaran main datang bertubi-tubi dari kanan-kiri. Tercatat 7 buah film telah ia perani. tiga diantaranya "disikat" sekaligus dalam berbagai peran.
Di puncak tangga, Meriam tunduk dan memanfaatkan keadaan. Itu terlihat ketika tawaran masuk dapur rekaman datang, ia segera menyanggupi. Beruntung suaranya termasuk lumayan dan hasilnyapun tidak mengecewakan. Meski dara ini kurang fasih mengucapkan huruf "r" hingga edisi khusu ini dibuat ia tengah membuat ancang-ancang untuk albumnya yang ketiga.
Jumpa pertama di lapangan tembak, Senayan, Jakarta. Menjelang tengah malam, Memer, demikian panggilan intimnya, tengah latihan menari bersama puluhan remaja seusainya, untuk film yang trngah ditanganinya, "Kulihat Cinta Dimatanya" arahan sutradara Bobby Sandy. Tarian ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya musik terhenti, semua beristirahat. Mer duduk di lantai, wajahnya bersimbah peluh. Beberapa saat kemudian ia minta rokok, lalu berembug dengan sanga sutradara yang mengawasi jalannya latihan. Meski malam telah larut dan saat itu adalah paling ideal untuk pergi tidur, namun dari gerak-gerik dan sorot mata, Mer masih memancarkan sosok seorang bintang yang penuh vitalitas.Mer nampak sudah bisa mengatur waktu, untuk kegiatan ekstra begini, tiga jam sebelumnya ia telah menghimpun tenaga.
"Meriam masih tidur, baru saja pulang syuting. Sebab nanti malam mau latihan menari di lapangan tembak.." tutur temannya seorang pemuda, ketika Hai berkunjung ke rumahnya di Sunter Paradise, Jakarta Utara, tiga jam sebelumnya.
"Kalau you masih ingin ketemu dia dan membuat janji untuk wawancara, sebaiknya nanti anda kesana aja," tambahnya.
Pemuda itu benar, Mer memang ada di lapangan tembak, latihan menari dan bisa membuat janji untuk wawancara, meski ia masih sibuk dengan urusannya. Lihat saja, kini ia masih ngobrol, beberapa temannya ikut nimbrung, rokok masih terjepit di tangannya. Sesekali ia tertawa lepas, seperti di ruang itu cuma ada mereka. Saat yang tepat memang harus ditunggu, ia juga punya hak untuk acara-acara yang bersifat pribadi.
Akhirnya menjelang usai latihan, janji pun ditetapkan.
Ketemu besok siang di lokasi syuting!
Syuting berjalan lancar, Mer mampu menghapal dialog dengan baik, meski panas matahari membakar. Menjelang tengah hari, adegan Mer berdialog di samping mobil usai ia segera menuju ke tepi jalan, di bawah pohon yang rindang, dimana petugas konsumsi menyiapkan tugasnya.
Syuting hari ini selesai sudah, semua berkemas, "Kita ngobrolnya di kantor aja yuk...disini panas" katanya sambil berjalan menuju mobilnya, masih baru, dari model terakhir
"Sebetulnya nggak panjang, soalnya nggak susah. Serba kebetulan malah..." tutur Mer terus terang. Ia bercerita mengenai perjalanan kariernya sambil makan siang, setelah rambutnya dipotong beberapa senti oleh temannya.
Masa bocahnya dihabiskan di dua tempat, Bandung dan Canada. Dengan perbedaan struktur lingkungan ini, Mer kecil tumbuh dan mereguk cerianya masa kanak-kanak. Sepulangnya ke tanah air, masa remajanya menyongsongnya, duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, gadis yang terakhir hanya sebagai siswa kelas tiga ini telah aktif dalam berbagai kegiatan remaja. Seperti menari, menyanyi dan foto model. Untuk aktivitas terakhir, ia punya kenangan tersendiri, karena dari bidang itulah ia berangkat
"Karena pada mulanya, Mer sering difoto sama papi untuk album keluarga, para relasi dan akhirnya meningkat untuk majalah" tandasnya.
Ketika syuting "Perawan-Perawan" yang diadakan di Bandung, seoran pencari bakat menyodorkan foto Mer yang ssring menghias di berbagai majalah. Oleh Ida Farida, sang sutradara, ia ditawari ikut main. "Namanya ingin mencoba, segala macam, ya dicoba..." selorohnya. Dan sejak itu, mulailah debutnya sebagai bintang film.
Namanya mulai dibicarakan orang ketika dalam "Roro Mendut", Mer tampil dengan cemerlang. Juga oleh sementara kalangan, dianggap bermain kelewat seronok untuk ukuran timur kala ia beraksi ala Brooke Shields dalam "Pengantin Pantai Biru". Namun itu semua tak menghambat jalan kariernya hingga ia mampu menggondol Piala Citra, sebagai anugerah tertinggi dalam perfilman nasional. Filmnya CINTA DIBALIK NODA menempatkan Mer di tangga teratas.
Lalu kapan kiprah Mer dalam dunia musik pop dimulai?
"Nah, sehabis main "Perawan-Perawan", saya dimanage selama setahun oleh Denny Sabri. Dibawa ke Pance Pondaag, di tes vokal, lalu dicoba untuk rekaman. Mungkin karena saya sudah terjun ke film, jadi lagu yang diberikan lebih bisa saya resapi maknanya, walau nyanyi bagi saya hanya ideal untuk kalangan sendiri, di sekolah, di rumah atau di kamar mandi!, sedang untuk rekaman saya nggak begitu antusias. Eh, nggak tahunya, album SYMPHONI RINDU meledak! Gitu deh...."ujarnya panjang lebar, diakhiri tawa berderai.

- (tertawa...) Nggak boleh tahu...! semua memang yang ngatur mami, boleh dikata 70% dari pendapatan masuk ke Bank. Kalau tidak, wah bisa habis. Namanya anak muda ingin beli segala macam.
+ Kembali ke soal penyanyi baru, bagaimana tanggapan anda tentang banyak bermunculan penyanyi baru, apakah anda merasa tersaingi?
- Banyak bermunculan penyanyi baru malah bagus. Kalau kita sudah tahu kemampuan kita, mengapa takut tersaingi? Itu berarti kita nggak percaya pada diri sendiri dong.
+ Boleh dikata tahun 84-85 ini merupakan masa jaya bagi Mer karena laris oleh berbagai tawaran.
- Wuu, kayak kacang goreng kali larisnya (sambil tertawa)
+ Nah, apa yang akan kamu kerjakan bila masa jaya ini berakhir dan para penggemar anda sudah mulai meninggalkan anda?
- (berpikir sejenak) ya....mengundurkan diri. Buat apa saya paksain mereka senang sama saya.
+ Barangkali ada beban psikologis?
- Pada mulanya mungkin. Tetapi paling-paling nanti jarang muncul lalu tidak main sama sekali, alias--kawin-- (tertawa)
(Gun)
dari HAI EDISI KHUSUS III
30 Juli-5 Agustus 1985
- Banyak bermunculan penyanyi baru malah bagus. Kalau kita sudah tahu kemampuan kita, mengapa takut tersaingi? Itu berarti kita nggak percaya pada diri sendiri dong.
+ Boleh dikata tahun 84-85 ini merupakan masa jaya bagi Mer karena laris oleh berbagai tawaran.
- Wuu, kayak kacang goreng kali larisnya (sambil tertawa)
+ Nah, apa yang akan kamu kerjakan bila masa jaya ini berakhir dan para penggemar anda sudah mulai meninggalkan anda?
- (berpikir sejenak) ya....mengundurkan diri. Buat apa saya paksain mereka senang sama saya.
+ Barangkali ada beban psikologis?
- Pada mulanya mungkin. Tetapi paling-paling nanti jarang muncul lalu tidak main sama sekali, alias--kawin-- (tertawa)
(Gun)
dari HAI EDISI KHUSUS III
30 Juli-5 Agustus 1985
Rabu, 13 November 2013
BETHARIA SONATHA "Dapat Sepuluh Mau Sebelas"
Album "Kau Tercipta Untukku" dan "Kau Untuk Siapa" menyentakkan blantika musik pop nusantara, nama Betha mulai bergaung dimana-mana. Dari 13 album, enam mendapat piringan emas. Mau kenalan?
Bayangkan, bila kamu bisa nyanyi dan bercita-cita jadi penyanyi, pertama nongol di TV, lalu tiba-tiba ditawari rekaman di studio beken dan ditangani musisi yang punya nama kondang. Kayak apa rasanya? Kaget? Sudah pasti.
Nah, kejadian semacam itulah yang dialami Sri Betharia Astuti Sonatha. Mojang kelahiran Bandung 14 Desember 1962, yang fotonya ada di depan hidung kalian ini. Cakep nggak?
Oh ya, kisahnya berawal dari:
Sejenak melepas lelah
Rasanya lucu sekali, ketika jumpa di halaman Universitas Borobudur, Jakarta, yang luas. Hai hanya tak mengenali ketika berpapasan dengan orang yang diburu selama ini. Rumah Betha di Bogor, hanya hari libur saja dia berada di sana, selebihnya di rumah kakaknya di Jakarta. Dikejar ke kota hujan tempat dia tinggal, dua kali nihil. Ke tempat kakaknya di Jakarta belum jelas alamatnya. Ke studio, ya kalau lagi "ngendon" di sana. Kan akhir-akhir ini sekolah sibuk ujian. Satu-satunya jalan memang ke sekolahnya. Dua kali ke universitas yang gedungnya masih "gres" ini juga kosong karena jadwal ujian yang selang-seling.
Eh, pas ketemu cuma kebetulan! Waktu itu bukan wajah dan sosoknya belum terekam dalam otak, cuma karena terburu-buru, kampus lagi bubaran. Takut buruan lolos lagi. Upaya mengejar ke kelasnya tertumbuk pada sesosok pemuda, lagi bengong, di depan pintu masuk. Kebetulan. Setelah ditanyakan nama penyanyi yang sedang diuber, wajahnya nampak keheranan. "Naa...yang barusan lewat, memakai celana putih itu...." ujarnya sambil menunjuk kearah gerombolan gadis-gadis yang berjalan dekat pintu gerbang.
Dikejar, sudah sampai ambang pintu mobil. Beruntung masih sempat. "Wah...saya mau pulang ke Bogor, buru-buru nih sebab ada janji. Ketemu lagi kapan deh nanti Betha siap," ujarnya ketika maksud wawancara dilontarkan.
Bayangkan, waktu untuk edisi khusus mendesak, terlintas, "Bagaimana kalau wawancaranya di dalam mobil saja. Nggak keberatan kan...?"
Setelah berpikir sejenak, mahasiswa ABA tingkat pertama itu lalu mengangguk. Sopir yang menunggu sedari tadi segera menghidupkan mesin. Gigi pertama masuk, mobil melaju. Omong-omong dengan Betharia Sonatha di sepanjang Jakarta-Bogor, disambung sedikit di rumahnya, Jalan Haur Jaya II/16 Bogor.
Mengaku senang menyanyi sejak kecil. namun, tampil bersama kakaknya, yang juga penyanyi, baru dimulai dari bangku SMP, dimana dia sudah aktif pula dalam kelompok vokal group. Bekal pengalaman inilah yang menyebabkan dara hitam manis ini memberanikan diri maju untuk tes di TVRI. Dua kali diuji vokalnya, ia boleh tampil dengan membawakan lagu "Dingin" dan "Hapuslah Sudah" dalam paket acara "Sejenak Melepas Lelah".
Setelah tampil, mendadak terjadi suatu peristiwa yang mengagetkan. Ia mendapat tawaran rekaman! Nggak tanggung-tanggung, yang mau mengontrak PT Musica Studio. Ditangani langsung oleh Rinto Harahap! Keruan saja penyanyi yang kerap mengucapkan kata "yang mana" ini girang banget. "Sudah tentu hal itu merupakan suatu kesempatan yang baik sekali, yang mana, begitu tampil di tv langsung ditawari rekaman. Dibawah pengawasan bang Rinto Harahap, yang mana, lagu-lagunya sudah sangat dikenal..." tandasnya.
Disamping jangkauan vokal yang memenuhi kriteria, lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap juga turut, sudah tentu, ambil bagian dalam sukses Betha. Tercatat enam kaset album lagu-lagu pop Indonesia. Tiga kaset album pop Padang, 3 kaset album pop Batak, dan sebuah kaset pop Ambon, sudah dikeluarkan puteri kelima dari sepuluh bersaudara kelarga Sonatha M.E. Surawinata dan Titin Sonatha ini.
Dua album popnya "Kau Tercipta Untukku" dan "Kau Untuk Siapa" merupakan tonggak bagi keberhasilan Betha. Penjualannya melampaui target, karena dua album itu juga ia bisa berkeliling daerah bersama rekan artis lainnya, seperti Jamal Mirdad dan Elly Sunarya.
Betha sudah meraih sukses sebagai penyanyi yang berhasil, seperti yang diidam-idamkannya selagi bocah. Album demi albumnya keluar dengan teratur, dari tiga belas kaset yang telah dilempar ke pasar, mampu menggaet enam piringan emas. Penghargaan yang lazim diberikan PT Musica Studio bagi album yang meledak.
+ Jadi siapa yang paling berperan dalam karir Betha?
- Keluarga, terutama kakak yang mengajari saya menyanyi.
+ Pernahkah "kebetulan" ini anda bayangkan sebelumnya?
- Ng...kebetulan sih nggak. Hoki (untung) orang bilang. Keberhasilan ini memang tak terbayang sebelumnya, tetapi cita-cita untuk menjadi penyanyi yang berhasil sudah ada sejak dulu.
+ Jika memang cita-cita anda, bagaimana konsekwensi anda pada cita-cita tersebut?
+ Apakah anda merasa khawatir tersaingi oleh pendatang baru?
- Saya tidak merasa adanya persaingan, semua sudah diatur oleh Tuhan. Ada saat di atas, ada saat di bawah. Dan saya sudah siap bila sewaktu-waktu berada di bawah.
+ Nah apa yang Betha lakukan, bila suatu saat berada di bawah dan penggemar anda sudah tidak ada.
- Nah, disinilah gunanya saya sekolah. Walau begitu saya akan tetap menyanyi sampai tua. Tidak ada yang senang ya untuk sendiri.
+ Sudah puas dengan hasil yang diraih sekarang?
- Namanya juga manusia, dapat sepuluh mau sebelas.
Oya, Betha titip pesan buat kalian, Mirip iklan baris surat kabar: Jangan lupa dengan album-album saya, tolong disimak. Mohon maaf untuk fans yang belum berbalas suratnya...., pasti Betha balas. (Gun)
30 Juli - 5 Agustus 1985
Kamis, 22 Agustus 2013
RIA ANGELINA "Nggak Bisa Nyanyi"
Tak mau asal berteriak di depan mikrophone. Bukan hanya suara saja yang dibutuhkan produser.
NOSTALGIA
Ingin bertemu, kangen dengan Guru SMP yang pernah menghukum dirinya, kangen terhadap suasana upacara.dengan baju seragam setiap Senin, dan terutama, suasana perasaan waktu ia menerima hukuman dari salah satu gurunya.
Paling sering disetrap, paling sering membuat kesalahan. Paling keki kalau disuruh lari keliling lapangan. Habis itu dijemur dibawah matahari jam dua belas.
Ria nggak bisa melupakan itu semua. Masih membekas. Bekas-bekas perasaan kesal masih tercermin melalui matanya ketika ia mengatakan, "Sampai sekarang saya masih keki kalau ingat. Malu sekali kalau disuruh nyanyi di depan kelas. Saya
pasti nggak bisa deh. Terus terang, saya kesulitan kalau disuruh menyanyi. Karena itu, nggak pernah membayangkan jadi penyanyi. Sekarang ini sepertinya saya jadi penyanyi yang asal-asal bohong," ungkap Ria ketika ingatan masa lalunya disinggung HAI.
Bukan cuma dia sendiri yang tidak punya keinginan menjadi penyanyi lagu pop. Malahan Bapaknya juga tidak mengijinkan. Maunya orang tua, Ria biar saja konsentrasi pelajaran sekolah dulu. Nah ketika di SMA, cewek yang doyan makan kepiting ini mulai memberanikan diri menjadi model foto untuk kalender iklan.
Dari situ keberaniannya berkembang. Tak segan-segan menerima uluran tangan produser rekaman. Ternyata, bukan hanya suaranya saja yang dibutuhkan produser.
Selain tampang yang membuat konsumennya tak berkedip kalau memandang, suara yang pas-pasan nyatanya pas benar untuk telinga ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai kebiasaan bernostalgia.
NGGAK SUKA GLAMOUR
Meski sudah merampungkan dua album Pop Indonesia - Birunya Rinduku dan Elegi Rinduku - belum juga dirasakan kepuasan yang mampu mengimbangi kegelisahannya. Masih ingin lebih dar hasilnya sekarang?
Lantas apa ambisi selanjutnya...? "Sekarang saya baru merintis usaha membuka perusahaan rekaman bersama Richie Ricardo. Itu merupakan persiapan saya kalau seandainya penggemar sudah mulai meninggalkan suara saya." Menurut dara kelahiran Cimahi ini, menghasilkan dua album pop dalam waktu kurang lebih setahun itu, dicapai dengan gampang-gampang susah.
Gampangnya karena banyak relasi Produser, Bapaknya Ria akrab sekali dengan produser JK Records. Kelanjutannya, produser akrab sekali dengan Ria.
"Susahnya.......? Mmmmm........kayaknya nggak ada yang terasa susah deh. Karena saya selalu bisa mengatasi persoalan. Saya melakukannya tidak terlalu serius kok mas. Santai-santai saja. Kan, kalau santai nggak ada susahnya," ungkap Ria, sembari melempar senyum.
Kendatipun dulu, tarik suara bukan merupakan angan-angan, Ria mengaku tidak mau asal berteriak kalau sudah berada di depan mikrophone. Saya merasa dibebani tanggung jawab yang berat sih. Masyarakat kan sudah terlanjur mengenal saya. Padahal saya sama sekali tidak merasakan adanya perubahan apa-apa di dalam diri saya. Dari dulu ya begini ini. Kurang begitu menyukai dunia glamour.
(BIS)
Dari Majalah HAI Edisi Khusus III 30 Juli-5 Agustus 1985
NOSTALGIA
Ingin bertemu, kangen dengan Guru SMP yang pernah menghukum dirinya, kangen terhadap suasana upacara.dengan baju seragam setiap Senin, dan terutama, suasana perasaan waktu ia menerima hukuman dari salah satu gurunya.
Paling sering disetrap, paling sering membuat kesalahan. Paling keki kalau disuruh lari keliling lapangan. Habis itu dijemur dibawah matahari jam dua belas.
Ria nggak bisa melupakan itu semua. Masih membekas. Bekas-bekas perasaan kesal masih tercermin melalui matanya ketika ia mengatakan, "Sampai sekarang saya masih keki kalau ingat. Malu sekali kalau disuruh nyanyi di depan kelas. Saya
pasti nggak bisa deh. Terus terang, saya kesulitan kalau disuruh menyanyi. Karena itu, nggak pernah membayangkan jadi penyanyi. Sekarang ini sepertinya saya jadi penyanyi yang asal-asal bohong," ungkap Ria ketika ingatan masa lalunya disinggung HAI.
Bukan cuma dia sendiri yang tidak punya keinginan menjadi penyanyi lagu pop. Malahan Bapaknya juga tidak mengijinkan. Maunya orang tua, Ria biar saja konsentrasi pelajaran sekolah dulu. Nah ketika di SMA, cewek yang doyan makan kepiting ini mulai memberanikan diri menjadi model foto untuk kalender iklan.
Dari situ keberaniannya berkembang. Tak segan-segan menerima uluran tangan produser rekaman. Ternyata, bukan hanya suaranya saja yang dibutuhkan produser.
Selain tampang yang membuat konsumennya tak berkedip kalau memandang, suara yang pas-pasan nyatanya pas benar untuk telinga ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai kebiasaan bernostalgia.
NGGAK SUKA GLAMOUR
Meski sudah merampungkan dua album Pop Indonesia - Birunya Rinduku dan Elegi Rinduku - belum juga dirasakan kepuasan yang mampu mengimbangi kegelisahannya. Masih ingin lebih dar hasilnya sekarang?
Lantas apa ambisi selanjutnya...? "Sekarang saya baru merintis usaha membuka perusahaan rekaman bersama Richie Ricardo. Itu merupakan persiapan saya kalau seandainya penggemar sudah mulai meninggalkan suara saya." Menurut dara kelahiran Cimahi ini, menghasilkan dua album pop dalam waktu kurang lebih setahun itu, dicapai dengan gampang-gampang susah.
Gampangnya karena banyak relasi Produser, Bapaknya Ria akrab sekali dengan produser JK Records. Kelanjutannya, produser akrab sekali dengan Ria.
"Susahnya.......? Mmmmm........kayaknya nggak ada yang terasa susah deh. Karena saya selalu bisa mengatasi persoalan. Saya melakukannya tidak terlalu serius kok mas. Santai-santai saja. Kan, kalau santai nggak ada susahnya," ungkap Ria, sembari melempar senyum.
Kendatipun dulu, tarik suara bukan merupakan angan-angan, Ria mengaku tidak mau asal berteriak kalau sudah berada di depan mikrophone. Saya merasa dibebani tanggung jawab yang berat sih. Masyarakat kan sudah terlanjur mengenal saya. Padahal saya sama sekali tidak merasakan adanya perubahan apa-apa di dalam diri saya. Dari dulu ya begini ini. Kurang begitu menyukai dunia glamour.
(BIS)
Dari Majalah HAI Edisi Khusus III 30 Juli-5 Agustus 1985
Kamis, 15 Agustus 2013
Rabu, 31 Juli 2013
Selasa, 23 Juli 2013
Rabu, 17 Juli 2013
Senin, 15 Juli 2013
Rabu, 10 Juli 2013
Minggu, 09 Juni 2013
Jumat, 15 Maret 2013
Kamis, 07 Maret 2013
Jumat, 01 Maret 2013
Langganan:
Komentar
(
Atom
)







































.jpg)





