Rabu, 17 Juli 2013

ENDANG S TAURINA "Sering Mendapat Bonus"

1 komentar :
Suaranya khas. Melengking tinggi. Dan albumnya “APA YANG KUCARI” , meledak di pasaran. Konon terjual sampai 1,3 juta kopi.  Selanjutnya, cewek yang tadinya rendah diri ini, mulai dibanjiri surat penggemar. Mau kenalan?

Kalau ada anggapan sinis bahwa di Indonesia ini artis penyanyi Cuma modal tampang doang, Endang bisa menolak tuduhan itu. Setidaknya, dia merupakan pengecualian. Karena dia toh tampil utuh dengan vokalnya.

Tidak dengan topangan daya pikat visual. Parasnya tidak luar biasa. Gaya panggungnya pun bisa dilakukan oleh orang biasa yang pemalu sekalipun. Atau bahkan yang belum pernah tampil sebelumnya. Tidak ada yang luar biasa. Tapi vokalnya?

Wah…kayaknya sempurna sekali untuk ukuran Pop Indonesia. Untuk itu dia perlu kita perhitungkan. Perlu kita bicarakan disini.

Endang sendiri lahir pada tanggal 20 Mei 1964 di Cianjur. Ayahnya Hoesen Sastrawirya, adalah seorang jaksa. Karena sering pindah tugas, Endang agak terganggu sekolahnya. Tidak bisa konsentrasi penuh. Tetapi di sekolah, dia sangat menonjol dalam bidang tarik suara. 

Kelas 1 SMP Kak Ida melihat bakat dari anak ini. Endang segera dilatih. Hasilnya segera terlihat. Dua tahun kemudian, dia menjadi juara pop singer se Jakarta di Ancol. Buntut-buntutnya, Ricco pun mulai menangani dia secara serius. Beberapa waktu kemudian, puteri kedua dari empat barsaudara ini dibawa kepada musisi kenamaan A.Riyanto dan Harry Toos. 

Ditangan mereka berdua, Endang ditempa secara lebih matang. Siap diorbitkan. Untuk itu namanya yang semula Endang Sukaesih diperbagus. (Takut keliru dengan penyanyi dangdut ya?). Sukaesih dipenggal menjadi inisial “S”. Dan karena dia berbintang Taurus, nama itu dipakai. Dipermanis menjadi Taurina. Jadilah Endang S. Taurina. 

Setelah tekan kontrak selama 3 album, dia mulai masuk dapur rekaman. Albumnya yang lahir, Jawaban Hati Selembut Salju. Disusul dua album berikutnya dalam kurun waktu singkat, “Inikah Jawaban Cintaku” dan “Jangan Kau Sakiti Hatiku”. Semuanya memang bicara soal cinta. Habis apalagi? 

Tiga album pertama tadi cukup laku di pasaran. Saat itu Endang sudah dibayar dimuka. Saat menandatangani kontrak. Otomatis dia tidak menerima bonus apapun dari keuntungan penjualan kasetnya. Iapun mulai berganti produser. Kali ini dipegang penuh oleh A.Riyanto. Dari situ kemudian mencuat album Seputih Salju. Ternyata mendapat sambutan hangat. A.Riyanto cukup jeli untuk mencarikan lagu yang pas dengan vokal Endang. Sukses ini diteruskan dengan albumnya yang kelima. 

Hasilnya lebih baik. Album ini mendapat piringan emas dalam angket musik Indonesia Siaran Angkatan Bersenjata, Pusat Penerangan ABRI. Judul albumnya, “Apa Yang Kucari”. Album ini terjual sampai 1,3 juta kopi. Tawaran show untuknyapun mulai berdatangan. 

Bila ketiga album sebelumnya, dia bersedia dibayar dimuka, maka pada album berikutnya dia menolak. Dia nggak bisa dibohongin kayak dulu lagi. Sebab ini jelas berkaitan dengan meledak atau tidaknya sang album dan pendapatan yang diterima penyanyi. Itulah, dia sekarang lebih suka dibayar secara royalti. “Dengan pembayaran royalti, saya sering mendapat bonus karena album meledak…” sahutnya. 

Dari bonus-bonus dan honor yang diterima, Endang bisa beli mobil sendiri. Dan belakangan, bahkan membangun rumah sendiri. Untuk mengetahui albumnya meledak atau tidak, Endang kadang mencek sendiri ke pasaran. Kadang juga diberi laporan dari perusahaan rekaman. Apa jumlahnya terkadang cocok dengan apa yang Endang hitung? “Hm…ah…produser nggak pernah bikin repot kok,” jawabnya rada bingung. 

Sekarang Endang ini tinggal di rumahnya yang baru. Semuanya dibangun dari hasil dia jungkir balik nyanyi. Semuanya seratur persen baru. Dengan ruang tengah yang luas, ruang tamu yang bergaya klasik dan karpet biru mengalas meja tamu. Jam antik dan lampu kristal menghias di ujung ruangan. 

Endang baru pulang dari Malaysia. Pada bulan puasa yang baru lalu, dia mengadakan opname televisi Malaysia untuk paket acara lebaran bersama Hetty Koes Endang. Karena suaranya, dia sempat dikeroyok wartawan Malaysia. Bahkan ada khusus mengejarnya ke Indonesia. 

Tapi Endang tetaplah Endang yang dulu. Meski albumnya yang ketujuh ini meledak lagi. Meski rumah baru sudah bisa dibangun di kawasan Halim. Dia tetap Endang yang dulu. Yang dalam wawancara selalu ditemani ibunya. Selalu dibantu kalau dia kurang mengerti apa maksud pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dia memang dilahirkan untuk menyanyi….itu saja. (Gun, Hill) 

Majalah HAI Edisi Khusus III (30 Juli – 5 Agustus 1985)

1 komentar :